Minggu, 19 Februari 2017

POTENSI SUMBERDAYA PAKAN LIMBAH TANAMAN PERTANIAN




POTENSI SUMBERDAYA PAKAN LIMBAH TANAMAN PERTANIAN DI KELOMPOK TANI TERNAK SEJARAH KABUPATEN SIDRAP



Oleh



ABDAN BASO
I111 13 532












FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017

HALAMAN PENGESAHAN


Nama                                       : Abdan Baso
No. Stambuk                           : I111 13 532
Jurusan                                    : Peternakan
Program Studi                         : Peternakan
Judul Praktek Lapang             : Potensi sumberdaya pakan limbah tanaman                                                   pertanian di kelompok  Tani Ternak Sejarah                                                   Kabupaten Sidrap.

                                   
Makassar,    Januari  2017

Telah diperiksa dan disetujui,
Pembimbing Utama



                   
Prof. Dr. Ir. Jasmal A. Syamsu, M.Si
NIP. 19681105 199301 1 001           
                                                  


Pembimbing Lapangan




Muh. Yusuf S.Pt



Mengetahui :

Dekan Fakultas Peternakan




Prof. Dr. Ir. H. Sudirman Baco. M.Sc.
NIP. 19641231 198903 1 025

Ketua Program Studi Peternakan




Prof. Dr. drh. Hj. Ratmawati Malaka, M.Sc.
NIP. 19640712 198911 2 002

                                                                                   

KATA  PENGANTAR


Alhamdulillahi Rabbil Alamin, puji syukur kita panjatkan ke hadirat Illahi Rabbi, karena dengan mata-Nya kita melihat, dengan telinga-Nya kita mendengar, dengan firman-Nya kita berbicara, dan dengan ruh-Nya kita dihidupkan.  Shalawat dan salam tak lupa penulis haturkan pada Nabiullah Muhammad SAW, ialah sang revolusioner sejati yang telah menggulung permadani kebatilan dan membentangkan sajadah-sajadah kebaikan.
Penulis menyadari dalam penulisan Laporan Praktek Kerja Lapang ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, dengan penuh rasa hormat, penulis merangkai untaian terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada  Prof. Dr. Ir. Jasmal A. Syamsu, M.Si selaku pembimbing utama dan Bapak Muhammad Yusuf, S.Pt sebagai pembimbing lapangan yang senantiasa meluangkan waktu, tenaga dan pikiran dalam mengarahkan penulis merancang dan menyelesaikan penulisan laporan ini, serta kepada semua pihak yang telah membantu baik dalam pelaksanaan PKL, maupun dalam penulisan laporan. Rasa terimakasih istimewa kepada orang tua dan keluarga tercinta yang senantiasa mencurahkan doa dan kasih sayangnya.
Penulis menyadari bahwa laporan Praktek Kerja Lapang ini masih jauh dari kesempurnaan meski telah berusaha melakukan yang terbaik. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan saran ataupun kritikan yang bersifat konstruktif dari pembaca demi penyempurnaan karya tulis ini. Harapan penulis, semoga karya tulis ini dapat bermanfaat.
Makassar,   Januari  2017                
Abdan Baso

DAFTAR ISI

   Halaman
HALAMAN SAMPUL.......................................................................................      i
HALAMAN PENGESAHAN............................................................................     ii
KATA PENGANTAR........................................................................................    iii
DAFTAR ISI.......................................................................................................    iv
DAFTAR  TABEL..............................................................................................     v
DAFTAR GAMBAR..........................................................................................    vi
DAFTAR LAMPIRAN......................................................................................   vii
PENDAHULUAN
Latar Belakang ...............................................................................................     1
Maksud dan Tujuan........................................................................................     2
PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA LAPANG
Waktu dan Tempat..........................................................................................     4
Materi..............................................................................................................     4
Metode Pelaksanaan Praktek..........................................................................     4

HASIL DAN PEMBAHASAN                       
Keadaan Umum Peternakan...........................................................................     6
Lokasi Kelompok Tani Ternak Sejarah......................................................     7
Struktur organisasi Kelompok Tani Ternak Sejarah...................................     8
Sarana dan prasarana Kelompok Tani Ternak Sejarah...............................     9
Keadaan Khusus Peternakan..........................................................................     9
Manajemen Pemeliharaan Ternak Sapi Kelompok Tani Ternak Sejarah....   11
Keadaan Pakan Ternak Kelompok Tani Ternak Sejarah............................   12
Potensi Ternak Sapi di Kelompok Tani Ternak.......................................... 13
Potensi Pakan Limbah Pertanian di Kelompok Tani Ternak......................   15
KESIMPULAN DAN SARAN..........................................................................   20
DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................   21
LAMPIRAN



DAFTAR TABEL


No.                                                                                                                Halaman
Teks
1.            Data Kepemilikan Ternak Anggota Kelompok Tani Ternak Sejarah..........   14
2.            Data Luas Lahan Pertanian Anggota Kelompok Tani Ternak Sejarah.......   15



3.     

DAFTAR GAMBAR


No.                                                                                                                Halaman
Teks
1.             Lokasi Kelompok Tani Ternak Sejarah,  Kelurahan Uluale,
Kecamatan Watang Pulu, Kabupaten Sidrap.............................................     6
2.            Struktur Organisasi KTT Sejarah Kel. Uluale, Kec. Watang Pulu,
Kab. Sidrap.................................................................................................     7



DAFTAR LAMPIRAN


No.                                                                                                                Halaman
Teks
1.        Data Anggota dan Kepemilikan Lahan dan Ternak Kelompok Tani
Ternak Sejarah..............................................................................................   23
2.        Dokumentasi Kegiatan.................................................................................   24





           


PENDAHULUAN


A.       Latar Belakang
Pembangunan sub sektor peternakan merupakan bagian dari pembangunan pertanian yang bertujuan untuk menyediakan pangan hewani berupa daging, susu, serta telur yang bernilai gizi tinggi, meningkatkan pendapatan peternak, meningkatkan devisa serta memperluas kesempatan kerja di pedesaan. Hal tersebut yang mendorong pembangunan sub sektor peternakan diperlukan, sehingga pada masa yang akan datang diharapkan dapat memberikan kontribusi yang nyata dalam pembangunan bangsa. Pembangunan yang mampu menyentuh langsung petani peternak adalah pembangunan yang mampu meningkatkan pendapatan peternak, maka dari itu di pandang perlu dalam mengembangkan peternakan di lingkup masyarakat. Dalam menapai usaha tersebut perlunya peternak diramu secara lembaga sehingga mampu bekerjasama dalam mengembangkan peternakan yang berpusat di masyarakat itu sendiri.
Dalam industri peternakan itu sendiri ada tiga pilar utama yang harus di penuhi yaitu bibit, pakan, dan pasar. Bibit merupakan ternak yang akan di kembangkan sedangkan pakan suatu hal mutlak yang harus ada dalam pengembangan ternak, pakan memiliki peran penting dalam sebuah proses manajemen peternakan, bahkan dalam hal cost/biaya pakan berkisar 70 – 80 % dari total pembiayaan. Sedangkan pasar merupakan bagian dari manajemen yang menjadi dasar dilakukannya proses pengembangan peternakan sehingga mampu menapai pembangunan kesejahteraan peternak.
Salah satu upaya peningkatan produksi peternakan dalam negeri yaitu dengan upaya perbaikan manajemen untuk menghasilkan pertambahan  produksi daging dan kualitas induk sapi . Pakan merupakan salah satu faktor yang penting dalam usaha peternakan khususnya Sapi. Asupan nutrisi yang cukup dan berkualitas menjadi syarat untuk tercapainya produksi daging yang optimal. Pakan yang berkualitas akan sangat mendukung peningkatan produksi maupun reproduksi ternak (Anggorodi, 1985).
Keberhasilan maupun kegagalan usaha pemeliharaan ternak banyak ditentukan oleh faktor  pakan yang diberikan. Banyak peternak yang tidak memperhatikan kualitas, kuantitas dan teknik pemberian pakan, sehingga pertumbuhan maupun produktifitas ternak yang dipelihara tidak tercapai sebagaimana mestinya dan akibatnya usaha akan menjadi kurang efisien.
Pengembangan sapi potong perlu mendapat perhatian serius mengingat permintaan daging tidak dapat dipenuhi di dalam negeri. Salah satu kendala yang sering dijumpai adalah rendahnya produktivitas ternak karena kualitas pakan rendah. Di lain pihak, potensi bahan baku pakan lokal seperti limbah pertanian dan perkebunan belum dimanfaatkan secara optimal, dan sebagian besar digunakan sebagai bahan bakar, pupuk organik dan bahan baku industri. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan pemanfaatan limbah pertanian dan perkebunan sebagai pakan ternak dapat dilakukan melalui peningkatan kualitas limbah pertanian dan perkebunan melalui teknologi fermentasi, suplementasi dan pembuatan pakan lengkap (complete feed) (Eko dan Hardianto, 2004)
Dalam mengembangkan ternak sapi potong tentunya tidak terlepas dari peranan kelompok tani ternak dalam mengupayakan ternaknya agar mendapat nilai tambah serta efisien dalam pengelolaannya. Upaya yang perlu dikembangkan dalam membina dan memantapkan kelompok peternak adalah memperkuat kelembagaan ekonomi petani peternak di pedesaan. Untuk itu diperlukan pendekatan yang efektif agar petani/peternak dapat memanfaatkan program pembangunan yang ada, secara berkelanjutan, melalui penumbuhan rasa memiliki, partisipasi dan pengembangan kreatifitas, disertai dukungan masyarakat lainnya sehingga dapat berkembang dan dikembangkan oleh masyarakat tani disekitarnya. Dengan adanya program Praktek Kerja Lapang dapat mensinergikan antara akademisi dan masyarakat dalam mendapingi kelompok peternak di daerah pedesaan. Hal inilah yang melatarbelakangi dilaksanakannya Praktek Kerja Lapang (PKL) mengenai potensi sumberdaya pakan limbah tanaman pertanian di kelompok Tani Ternak Sejarah, Kabupaten Sidrap.
B.        Maksud dan Tujuan
Maksud dilaksanakannya Praktek Kerja Lapang (PKL) mengenai potensi sumberdaya pakan limbah tanaman pertanian di kelompok Tani Ternak Sejarah, Kabupaten Sidrap yakni untuk melaksanakan tugas dan kewajiban mahasiswa peternakan sebagai salah satu syarat  sebelum lulus di fakulas peternakan universitas hasanuddin, dan bentuk aplikasi ke masyarakat dari ilmu yang telah di terima dalam proses pembelajaran
Adapun tujuan dari pelaksanaan Praktek Kerja Lapang (PKL) ini adalah untuk menambah pengetahuan, pemahaman dan wawasan serta keterampilan mengenai manajemen pemeliharaan di peternakan rakyat terutama pada pemanfaatan pakan asal limbah tanaman pertanian sebagai pakan ternak ruminansia. Selain itu, bertujuan pula untuk meningkatkan kemampuan kompetensi pengembangan kepribadian, keilmuan dan keterampilan, keahlian berkarya, perilaku berkarya dan kompetensi berkehidupan bermasyarakat berbasis pada pembelajaran aktif Student Centered Learning (SCL) sebagai bekal untuk meraih peluang  pasar kerja setelah menyelesaikan kuliah.




PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA LAPANG


Waktu dan Tempat


Praktek Kerja Lapang (PKL) mengenai Potensi sumberdaya Pakan limbah tanaman pertanian di kelompok Tani Ternak Sejarah Kabupaten Sidrap ini dilaksanakan pada tanggal 19 Agustus  – 19 November 2016 di Kelompok Tani Ternak Sejarah, Kelurahan Bangkai, Kecamatan Watang Pulu, Kabupaten Sidenreng Rappang

Materi


Alat yang diguanakan adalah sepeda motor, karung, copper, parang, sabit, kandang jepit, ember,  drum dan pita ukur.
Bahan yang digunakan adalah rumput gajah, jerami padi, dan konsentrat.

Metode Pelaksanaan Praktek


Metode yang digunakan dalam pelaksanaan Praktek Kerja Lapang (PKL) ini adalah studi literatur dan partisipasi aktif; learning by doing. Partisipasi aktif yakni dengan mengikuti segala tahapan dalam manajemen pemeliharaan ternak Sapi terutama dalam hal manajemen pemberian pakan dan analisis efisiensi penggunaan pakan serta mengidentifikasi potensi pakan limbah.
Kegiatan yang dilaksanakan di Kelompok Tani Ternak Sejarah yang bertempat di Kabupaten Sidrap sebagai tempat Praktek Kerja Lapang adalah mengamati dan melaksanakan secara langsung kegiatan yang berkenaan dengan manajemen pemberian pakan secara umum, melakukan identifikasi luar lahan pertanian anggota kelompok, melakukan identifikasi jumlah ternak sapi setiap anggota kelompok, melakukan pencatatan (recording), serta membantu proses pemeliharaan.
Pengambilan data dilakukan untuk memperoleh data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari wawancara dengan tokoh-tokoh yang terlibat pada kegiatan pemeliharaan Ternak Sapi di Kelompok Tani Ternak Sejarah Kabupaten Sidrap. Data sekunder meliputi data recording Ternak Sapi yang meliputi PBB, BCS Jumlah pakan yang di konsumsi, jumlah pemberian konsentrat, data pemberian hijauan dan pemberian pakan limbah pertanian.






HASIL DAN PEMBAHASAN


A.    Keadaan Umum Peternakan
Kelompok Tani Ternak (KTT) Sejarah merupakan kelompok peternak yang terletak di Kelurahan Bangkai, Kecamatan Wattangpulu, Kabupaten Sidrap. Kelompok peternak ini merupakan kelompok peternakan yang bergerak dalam usaha ternak besar khususnya sapi.  KTT Sejarah memiliki jumlah anggota 29 orang yang di ketuai oleh bapak Samsuddin dengan jumlah sapi dalam kelompok adalah 176 ekor. Sebagai kelompok tani yang proaktif KTT sejarah juga merupakan salah satu kelompok yang mendapat bantuan pemerintah dengan Program Sentra Peternakan Rakyat (SPR) yang terdiri dari Penguatan pakan terhadap Indukan Sapi Potong, perbaikan sarana dan prasana peternakan, bibit hijauan dan konsentrat. Kelompok ini juga sebagai sarana komunikasi para anggota yang di koordinir oleh bapak samsuddin dalam setiap permasalahan yang di hadapi peternak.

Lokasi Kelompok Tani Ternak Sejarah


Lokasi KTT Sejarah terletak di Jalan Toddang Bojo, Kelurahan Bangkai, Kecamatan Wattang Pulu, Kabupaten Sidenreng Rappang, Provinsi Sulawesi Selatan. Lokasi KTT Sejarah merupakan jalan kecil bagian dari Jalan Poros Makassar – Enrekang yang juga sebagai salah satu jalan penghubung antara dua Kecamatan di Kabupaten Sidrap Kecamatan Wattang Pulu dan Kecamatan Baranti.  
    





Gambar 1. Lokasi Kelompok Tani Ternak Sejarah,  Kelurahan Uluale, Kecamatan Watang Pulu, Kabupaten Sidrap

Struktur Organisasi Kelompok Tani Ternak Sejarah


Struktur organisasi merupakan susunan dan hubungan-hubungan antar komponen bagian-bagian dan posisi-posisi dalam suatu organisasi.  Struktur organisasi KTT Sejarah :
     Ketua          : Samsuddin
     Sekertaris    : Jumaidil
     Bendahara  : Aswar
     Anggota      : Syahril                       Sayuti                          Aris
                          Usman                       Lessong                       Amin Sulaiman
Hasbi                         Abd. Hamid                Syamsuddin H
Langka                      Sudirman Dudi           Irwan
Sahrir                         Sudirman Banani        Rustan Mare
Laba                          Saharuddi                    Abd. Latif
Baharuddin               Juanda                         Herman
Matta                         Laserreng                    Sudirman Dama

Gambar 2. Struktur organisasi
KTT Sejarah Kel. Uluale, Kec. Watang Pulu, Kab. Sidrap

Sarana dan Prasarana KTT Sejarah


Kelompok Tani Ternak Sejarah memiliki sarana dan prsarana sebagai berikut :
1.      Kandang Kelompok
2.      Kandang perorangan
3.      Gudang Pakan
4.      Lahan Hijauan
5.      Copper
6.      Motor 3 roda inventaris kelompok

B.     Keadaan Khusus Peternakan

             Secara umum pola pemeliharaan ternak di kelompok tani ternak Sejarah menganut sistem semi-intensif. Dimana pada malam hari di kandangkan dan pada siang hari di gembalakan. Pada dasarnya sistem pemeliharaan tersebut telah dilakukan oleh hampir semua peternakan rakyat. Akan tetapi, pada musim tertentu pola pemeliharaan di lakukan secara intensif, seperti pada musim turun sawah atau pada saat pengolahan sawah untuk siap tanam hingga panen padi tiba. Pada keadaan tersebut, hijauan yang tersedia secara liar maupun hasil budidaya setiap anggota Kelompok Tani Ternak Sejarah menjadi alternatif dalam memnuhi pakan ternak sapi yang dimiliki.
            Dari sisi ketersediaan pakan, Kelompok Tani Ternak sudah mampu mengaplikasikan metode penyimpanan pakan dengan baik, akan tetapi belum sampai pada proses pengolahan. Hal ini di buktikan keadaan pakan di gudang pakan di setiap anggota kelompok terdapat tumpukan-tumpukan jerami padi limbah hasil panen padi yang nantinya diguanakan sebagai pakan pengganti untuk ternak sapi tersebut.  Inilah yang menjadi permasalahan utama di kelompok tani ternak Sejarah, berlimpahnya pakan limbah hasil pertanian yang seharusnya dapat diolah menjadi sumber pakan menjadi kurang efektif karena kurangnya teknologi, informasi dan pengalaman yang dimiliki oleh anggota kelompok tani ternak Sejarah dalam mengolah pakan.
            Limbah pertanian sangat berpotensi sebagai pakan lokal yang dapat di gunakan sebagai pakan alternatif, jika diolah dengan baik. Karena Lokasi Peternakan di Kelompok Tani Ternak Sejarah di kelilingi oleh hamparan sawah yang sangat luas. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa Kabupaten Sidrap meruapakan wilayah Swasembada Pada bahkan di juluki sebagai Kota beras. Olehnya itu potensi tersebut seharusnya diamanfaatkan dengan baik dan sebagian besar jerami padi menajdi limbah tak terpakai di kebanyakan petani peternak. Hidanah (2007 ), mengatakan pemanfaatan jerami padi sebagai pakan ternak ber - kisar antara 31-39%, untuk industri 7-16% dan sisanya 36-62% dibiarkan sebagai limbah. Padahal potensi sebagai pakan ternak ruminant sangt baik, karena memiliki serat kasar yang tinggi. Preston (2005) menyatakan komposisi kimiawi jerami padi IR 64 adalah bahan kering 91,29%, protein kasar 4,10%, serat kasar 33,35%, lemak kasar 3,88%. Abu 21,35% dan bahan organik 69,94%.

Manajemen Pemeliharaan Ternak Sapi Kelompok Tani Ternak Sejarah

            Usaha peternakan menjadi modal penting bagi terwujudnya program pemerintah yaitu swasembada daging. Para peternak sebagai pemegang peranan penting dalam usaha ini haruslah mampu bersikap bijak dan terampil dalam memelihara ternak mereka. Di dalam menghasilkan produktivitas yang tinggi maka banyak hal yang harus dilakukan diantaranya manajemen pemeliharaan yang baik. Manajemen pemeliharaan ternak sapi di setiap anggota Kelompok Tani Ternak Sejarah adalah dengan pola semi intensif.
            Para anggota kelompok melakukan pemeliharaan dengan sistem mengkombinasikan antara pola intensif (dikandangkan) dan konvensional (digembalakan). Manajemen pemeliharaan sapi potong meliputi pakan yang diberikan, penanganan kesehatan, perkandangan serta perkawinan baik secara alami maupun teknologi inseminasi buatan. Jenis sapi yang dipelihara oleh peternak yaitu sapi Simmental, sapi Peranakan Ongole (PO), sapi Limousin, sapi Brahman dan sapi Bali. 
            Dari kegiatan pemeliharaan ternak, dapat dilihat bahwa peternak melakukan kombinasi antara pertanian dan peternakan. Ternak yang di lepaskan di persawahan akan mengonsumsi libah jerami dan rumput liar yang tumbuh di sawah dan secara tidak lansung sawah mendapatkan pengolahan melalui bajakan yang dilakukan sapi saat di gembalakan di sawah, sedangkan kotoran ternak sapi menjadi tambahan pupuk di lahan sawah tersebut.
            Penelitian Yusmichad Yusdja, dkk. (2004), menyebutkan bahwa pada dasarnya ada 6 bentuk struktur penguasaan dan pengusahaan ternak yang dapat dipahami yakni;
1.      Kelompok peternakan rakyat wilayah tanaman pangan. Pemeliharaan ternak sapi bersifat tradisional dan pemilikan sapi erat kaitannya dengan usaha pertanian. Bentuk ini umumnya ditemukan di pulau Jawa.
2.      Kelompok peternakan rakyat yang tidak terkait dengan tanaman pangan. Pemeliharaan sapi bersifat tradisional dan pemilikan erat kaitannya dengan ketersediaan padang penggembalaan atau hijauan. Bentuk pemeliharaan ternak seperti ini sudah umum di Sumatera dan Indonesia Bagian Timur.
3.      Kelompok peternakan rakyat dengan sistem bagi hasil. Pemeliharaan ternak mempunyai tujuan yang tergantung pada kesepakatan.
4.      Kelompok usaha peternakan rakyat dan skala kecil. Pemeliharaan bersifat intensif.
5.      Kelompok usaha peternakan skala menengah. Pemeliharaan sapi sangat intensif, penggunaan teknologi rendah. Kelompok ini terbagi dua :
a.       Kelompok usahaternak sapi potong mandiri.
b.      Kelompok usahaternak sapi potong bermitra.
6.      Kelompok usaha peternakan swasta skala besar (feedlotters). Pemeliharaan sapi dilakukan intensif, menggunakan teknologi tinggi.

Keadaan Pakan Ternak Kelompok Tani Ternak Sejarah

            Kelompok Tani Ternak Sejarah Merupakan salah satu kelompok yang mendapat bantuan Program Direktorat Jenderal Peternakan yaitu Penguatan Pakan Pada Sapi Indukan. Program tersebut bertujuan untuk meningkatkan performa sapi indukan yang masih produktif sehingga diharapkan mampu memperbaiki kondisi tubuh indukan sapi dan lebih produktif. Item dari program tersebut adalah pemberian konsentrat, bibit hijauan ( Rumput Gajah/pennicetum purpureum), copper, Renovasi Gudang pakan dan Perbaikan sarana Air bersih.
               Setiap Anggota Kelompok Sejarah telah mampu melakukan penyimpanan pakan cadangan yang nantinya akan diguanakan saat musim kemarau atau saat kekurangan pakan. Namun, belum adanya inovasi dan kreatifitas anggota kelompok untuk mengolah pakan tersebut menjadi pakan yang lebih baik menjadi tidak maksimal dalam penyediaan pakan oleh peternak. Padahal dengan berlimpahnya pakan limbah jerami menjadi potensi yang sangat besar jika diberikan sedikit teknologi. Hal ini di akibakan kurangnya pengalaman, informasi dan pengetahuan akan teknologi pengolahan pakan.
            Menurut Pranadji (2000), bahwa sebagian besar usahatani apapun lemah dalam modal dan penguasaan teknologi, terlihat salah satu sumber ketidak efisienan sistem usahatani tanaman-ternak petani saat ini adalah kelembagaan usahatani yang relatif lemah. Di bidang peternakan penyebaran informasi teknologi dari berbagai sumber sangat kurang, sehingga pengetahuan petani mengenai manajemen pemeliharaan ternak sapi relatif rendah (Zaenuri et al, 2003).

Potensi Ternak Sapi Kelompok Tani Ternak Sejarah

            Kelompok tani ternak Sejarah bergerak dalam usaha ternak ruminansia khususnya ternak sapi. Setiap anggota kelompok memili rata-rata 4-5 ekor ternak sapi per orang dengan jumlah total sapi dalam kelompok adalah 176 ekor. Dengan jumlah tersebut kelompok tersebut memiliki potensi untuk terus dikembangkan hingga menjadi industri peternakan jika didamping dengan baik oleh pihak pemerintah. Berikut dapat di lihat potensi kepemilikan ternak oleh Kelompok Tani Ternak Sejarah.
Tabel 1. Data Kepemilikan Ternak Anggota kelompok Tani Ternak Sejarah
No.
Nama Anggota
Jumlah
Sapi (ekor)
Kepemilikan Ternak (ekor)
Jumlah Ternak
(ST)
Jantan
Betina
Anak
Muda
Dewasa
1
Samsuddin
9
5
4
1
-
8
8.5
2
Jumaidil
8
2
6
3
2
3
5.5
3
Aswar
5
1
4
2
-
3
4
4
Syahril
6
2
4
2
1
3
4.5
5
Usman
3
-
3
1
-
2
2.5
6
Hasbi
1
-
1
-
-
1
1
7
Langka
1
-
1
-
-
1
1
8
Sahrir
5
-
5
2
-
3
4
9
Laba
2
-
2
-
-
2
2
10
Lamiru
5
2
3
2
-
3
4
11
Baharuddin
3
-
3
-
1
2
2.5
12
Sayuti
5
3
2
2
1
2
3.5
13
Lessong
3
1
2
1
-
2
2.5
14
Abd. Hamid
10
3
7
2
4
4
7
15
Sudirman Dudi
3
1
2
1
-
2
2.5
16
Anwar
4
1
3
1

3
3.5
17
Saharuddin
3
-
3
-
2
1
2
18
Sudirman Banani
20
4
15
4
5
11
15.5
19
Juwanda
4
1
3
2
-
2
3
20
Aris
3
-
3
-
1
2
2.5
21
Amin Sulaiman
9
1
8
3
-
6
7.5
22
Syamsuddin H
5
-
5
-
-
5
5
23
Irwan
12
5
7
3
2
7
9.5
24
Rustam Mare
14
3
11
3
3
8
11
25
Abd. Latif
5
2
3
2
1
2
3.5
26
Herman
12
9
3
2
-
10
11
27
Matta
6
3
3
2
-
4
5
28
Laserreng
5
1
4
1
1
3
4
29
Sudirman Dama
5
1
4
1
-
4
4.5
Jumlah
176
51
124
43
24
109
142.5
Rata-rata
6.07
2.55
4.28
1.95
2
3.76
4.91
  Sumber : Data Primer Praktek Kerja Lapang (PKL) Kelompok Tani Ternak Sejarah Tahun 2016.

Berdasarkan data tabel 1 dari hasil identifikasi jumlah ternak di kelompok tani ternak sejarah di peroleh bahwa jumlah ternak keseluruhan sebanyak 176 ekor yang terbagi atas 51 ekor jantan dan 124 ekor betina serta terdiri dari 43 ekor anak, 24 ekor muda dan 109 ekor sapi dewasa yang mana dalam satuan ST berjumlah 142.5 ST dengan rata-rata setiap anggota memiliki 6 ekor sapi.   Dari data tersebut kelompok tani ternak sejarah memiliki potensi sebagai usaha peternakan sapi yang berbasis peternakan rakyat jika di kelola dengan baik.

Potensi Pakan Limbah Pertanian Kelompok Tani Ternak Sejarah

Lokasi dengan hamparan sawah yang luas menjadikan kelompok tani ternak Sejarah memiliki potensi pakan limbah yang sangat berlimpah. Setiap anggota kelompok memiliki lahan pertanian sawah dengan rata 2-3 Ha. Ini menujukkan potensi jerami padi yang sangat berlimpah yang dapat digunakan sebagai pakan sumber serat kasar untuk ternak sapi. Luas lahan sawah yang dimiliki setiap anggota Kelompok Tani Ternak Sejarah sebagai berikut.
Tabel.1 Data Luas Lahan Sawah Anggota Kelompok Tani Ternak Sejarah
No.
Nama
Luas Lahan Pertanian (Ha)
Jumlah ternak (ST)
Padi
Jagung
Dll.
1
Samsuddin
3
-
-
8.5
2
Jumaidil
2
-
-
5.5
3
Aswar
2
-
-
4
4
Syahril
2
-
-
4.5
5
Usman
1.5
-
-
2.5
6
Hasbi
2
-
-
1
7
Langka
2
-
-
1
8
Sahrir
3
-
-
4
9
Laba
2.5
-
-
2
10
Lamiru
2.5
-
-
4
11
Baharuddin
1.5
-
-
2.5
12
Sayuti
5
-
-
3.5
13
Lessong
2
-
-
3.5
14
Abd. Hamid
2.5
-
-
8
15
Sudirman Dudi
2.5
-
-
2.5
16
Anwar
1.5
-
-
3.5
17
Saharuddin
1.5
-
-
2
18
Sudirman Banani
3
-
-
15.5
19
Juwanda
2.5
-
-
3
20
Aris
2.5
-
-
2.5
21
Amin Sulaiman
2
-
-
7.5
22
Syamsuddin H
2.5
-
-
5
23
Irwan
3
-
-
9.5
24
Rustam Mare
3
-
-
11
25
Abd. Latif
3
-
-
3.5
26
Herman
3
-
-
11
27
Matta
3
-
-
5
28
Laserreng
2.5
-
-
4
29
Sudirman Dama
2.5
-
-
4.5
Jumalah
71.5
-
-
142.5
Rata-Rata
2.465
-
-
4.98
Sumber : Data Primer Praktek Kerja Lapang (PKL) Kelompok Tani Ternak  Sejarah Tahun 2016.

Jerami Padi merupakan limbah pertanian yang paling banyak tersedia dan sering digunakan sebagai bahan pakan pada saat persediaan rumput berkurang. Namun salah satu kekurangan jerami padi yaitu kandungan nutrisinya yang rendah, antara lain karena dinding selnya tersusun oleh selulosa, lignin dan silika, sehingga dalam pemanfaatan jerami padi diperlukan suplementasi bahan yang berkualitas kemudian diolah agar nilai gizinya dapat ditingkatkan. Salah satu upaya untuk membantu memecahkan permasalahan kualitas pakan adalah melakukan pengolahan.
Penggunaan jerami padi untuk pakan ternak tidak dapat digunakan sebagai sumber pakan ternak tunggal. Karena kandungan nutrientnya dapat dikatakan jelek terlebih lagi kandungan serat kasar yang cukup tinggi. Berbagai perlakuan terhadap jerami padi untuk meningkatkan nilai gizi telah banyak digunakan. Namun untuk pemanfaatan pakan di pedesaan, tampaknya suplementasi jerami padi dengan sisa hasil industri pertanian ataupun tanaman leguminosa merupakan pilihan yang mudah diterapkan (Martawidjaja, 2013).
            Menurut Syamsu dan Abdullah (2008), Rata-rata produksi segar jerami padi di Sulawesi Selatan sebesar 11,89 t/ha. Rata-rata produksi bahan kering jerami padi 5,94 t/ha, dengan kisaran produksi terendah 3,58 t/ha dan tertinggi 8,53 t/ha. Adanya variasi produksi bahan kering jerami padi disebabkan oleh adanya perbedaan cara panen padi, yaitu padi yang dipanen dengan menggunakan mesin (alsintan) pemotongan dilakukan pada bagian aerial sehingga jerami padi yang diperoleh lebih sedikit dibandingkan dengan padi yang dipanen menggunakan sabit dilakukan pemotongan sekitar 10 cm dari atas tanah sehingga diperoleh jerami padi yang lebih banyak.
Daya dukung limbah pertanian dihitung dari total pakan dari masing-masing limbah pertanian yang tersedia terhadap jumlah kebutuhan pakan bagi sejumlah populasi sapi potong di wilayah itu (Juarini dan Sumanto, 2000). Indeks daya dukung limbah pertanian dihitung berdasarkan berat segar/berat kering, Protein Kasar (PK) dan Total digestible Nutrien (TDN) dari pakan limbah pertanian.

Dalam menghitung daya dukung limbah jerami padi digunakan beberapa asumsi kebutuhan pakan ternak ruminansia. Asumsi yang digunakan yaitu bahwa satu satuan ternak (1 ST) ternak ruminansia rata-rata membutuhkan bahan kering (BK) adalah 6,25 kg/hari (NRC, 1984), kebutuhan protein kasar adalah 0,66 kg/hari dan kebutuhan total digestible nutrient (TDN) adalah 4,3 kg/hari. Daya dukung limbah jerami padi berdasarkan bahan kering, protein kasar dan TDN dihitung menurut Syamsu et al. (2005). Status daya dukung pakan menurut indeks daya dukung pakan membedakan kriteria : sangat kritis <2, kritis 2-3, rawan >3-4, aman >4-5 dan sangat aman >5 (Ashari et al, 1995). 
Daya dukung limbah pertanian sebagai pakan di kelompok tani ternak Sejarah dapat dilihat sebagai berikut :
Jika konsumsi rata-rata jerami padi oleh setiap 1 ST adalah 6,25 kg maka dalam setahun adalah Jumlah hari dalam satu tahun x konsumsi rata-rata jerami padi perhari .
Konsumsi rata-rata BK jerami padi pertahun = 365 hari x 6.25 kg/hari
                                                                       = 2281.25 kg
                                                                        = 2.28125 ton
Jadi konsumsi rata-rata BK jerami padi pertahun adalah 2.28125 ton/ST
            Jika Rata-rata produksi produksi bahan kering jerami padi 5,94 ton/ha/tahun, maka produksi rata-rata dari luas lahan di kelompok tani ternak Sejarah adalah jumlah luas lahan sawah x jumlah produksi rata-rata bahan kering jerami.
Produksi jerami rata-rata kelompok = 71.5 ha x 5.94 ton/ha
                                                        = 424.71 ton.
Jadi produksi rata-rata jerami padi kelompok adalah 424.71 ton/tahun
            Maka daya dukung limbah pertanian khususnya jerami padi di kelompok tani ternak sejarah adalah
                                                                           
                                                                            = 1.306
Jadi, daya dukung pakan limbah pertanian khususnya jerami padi adalah 1. 306 dan termasuk dalam kriteria kritis yaitu <2.  
            Berdasarkan kondisi yang ada pada kelompok tani ternak sejarah, pakan limbah belum termanfaatkan dengan baik. karena kurangnya informasi dan teknologi yang dimiliki dalam mengolah limbah tersebut. Kelompok tani ternak Sejarah lebih memfokuskan pada hijauan yang ditanam dan rumput liar yang ada sikitar lahan pertanian.




KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan


Pakan limbah hasil pertanian di Kelompok Tani Ternak Sejarah di Kelurahan Uluale, Kecamatan Watang Pulu, Kabupaten Sidrap memiliki potensi yang sangat besar jika hanya memenuhi kebutuhan ternak dalam kelompok. Dalam kegiatan pemeliharaan ternak sapi Kelompok Tani Ternak Sejarah menggunakan metode semi intensif. Serta penerapan teknologi untuk mengoptimalkan potensi pakan yang ada pada wilayah kelompok masih belum maksimal hanya sebatas teknologi penyimpanan. Potensi ternak di kelompok tani ternak sejarah sangat dapat dikembangkan, dari jumlah sapi di kelompok yaitu 176 ekor dengan rata-rata kepemilikan 6 ekor per anggota kelompok dapat lebih dikembangkan jika di damping dengan baik. potensi pakan limbah pertanian dapat di lihat dari daya dukungnya terhadap jumlah ternak. Daya dukung dari limbah pertanian khusunya jerami padi pada kelompok tani ternak Sejarah adalah 1.306 dan termasuk dalam kategori kritis yaitu dibawah dari angka 2.  

Saran

Perlunya dilakukan pendampingan khusus untuk para peternak oleh pihak akademisi untuk memberi arahan mengenai teknologi pengolahan dan juga manajemen pemeliharaan yang baik agar potensi potensi peternakan yang ada di masyarakat, khususnya di peternakan rakyat dapat lebih optimal.


DAFTAR PUSTAKA


Anggorodi, 1985. Kemajuan Mutakhir dalam Ilmu Makanan Ternak Unggas. Universitas Indonesia: Jakarta.
Eko, D. W. dan Hardianto, R. 2004. Pemanfaatan sumber daya pakan lokal untuk pengembangan usaha sapi potong. Lokakarya Nasional Sapi Potong. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur. hlm.66-76.
Hidanah S. 2007. Isolasi Bakteri dan Jamur Selulolitik sebagai Inokulum Untuk Meningkatkan Jera mi Padi dan Produktivitas Domba. Di sertasi Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya.
Martawidjaja, M. 2013. Pemanfaatan Jerami Padi Sebagai Pengganti Rumput Untuk Ternak Ruminansia Kecil. Balai Penelitian Ternak, Po Box 221, Bogor 16002. Wartazoa Vol. 13 No. 3 Th. 2003 119.
NRC (NATIONAL RESEARCH COUNCIL). 1984. Nutrient Requirement of Beef Cattle. 6th Rev. Ed. National Academy Press, Washington DC.
Pranadji. T.,2000. Beberapa Aspek Untuk Antisipasi Pembangunan Pertanian Abad 21. Makalah disampaikan pada Pelatihan ;Pemahaman Aspek Sosial dan Budaya Masyarakat Dalam Perencanaan dan Penerapan Teknologi. Kerjasama Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian UNPAD dengan Badan Litbang Pertanian. Jatinangor, Sumedang.
Preston L. 2005. Feed Composition Tables. http://Beef-Mag.com/Mag/Beef Feed. Composi tion Tables.
SYAMSU, J.A., L.A. SOFYAN, K. MUDIKDJO, E.G. SA’ID dan E.B. LACONI. 2005. Analisis Potensi Limbah Tanaman Pangan sebagai Sumber Pakan Ternak Ruminansia di Sulawesi Selatan. J. Ilmiah Ilmu-ilmu Peternakan 8(4): 291 – 301.
Syamsu, J. A. dan Abdullah, A. 2008. Prospektif jerami padi sebagai sumber pakan Untuk pengembangan ternak ruminansia di Sulawesi selatan. Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin, Jl. Perintis Kemerdekaan Km. 10, Makassar. Seminar Nasional. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. hlm.847 – 852.
Yusdja.Y. dkk, 2004. Pemantapan Program Dan Strategi Kebijakan Peningkatan Produksi Daging Sapi. Pusat Penelitian Dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian.Bogor.
Zaenuri. L.A., Tanda S. Panjaitan, Hermansyah Pany, Dahlanuddin dan Muzani, 2003. Persepsi Perternak NTB Terhadap Sapi Bali. Laporan hasil Survei Kerjasama BPTP NTB dengan Fakultas Peternakan Universitas Mataram. Mataram.


LAMPIRAN


Lampiran 1. Data Anggota dan Kepemilikan Lahan dan Ternak Kelompok Tani Ternak Sejarah

No.
Nama
Jabatan
Luas Lahan Pertanian (Ha)
Jumlah ternak (ST)
Padi
Jagung
Dll.
1
Samsuddin
Ketua
3
-
-
8.5
2
Jumaidil
Sekertaris
2
-
-
5.5
3
Aswar
Bendahara
2
-
-
4
4
Syahril
Anggota
2
-
-
4.5
5
Usman
Anggota
1.5
-
-
2.5
6
Hasbi
Anggota
2
-
-
1
7
Langka
Anggota
2
-
-
1
8
Sahrir
Anggota
3
-
-
4
9
Laba
Anggota
2.5
-
-
2
10
Lamiru
Anggota
2.5
-
-
4
11
Baharuddin
Anggota
1.5
-
-
2.5
12
Sayuti
Anggota
5
-
-
3.5
13
Lessong
Anggota
2
-
-
3.5
14
Abd. Hamid
Anggota
2.5
-
-
8
15
Sudirman Dudi
Anggota
2.5
-
-
2.5
16
Anwar
Anggota
1.5
-
-
3.5
17
Saharuddin
Anggota
1.5
-
-
2
18
Sudirman Banani
Anggota
3
-
-
15.5
19
Juwanda
Anggota
2.5
-
-
3
20
Aris
Anggota
2.5
-
-
2.5
21
Amin Sulaiman
Anggota
2
-
-
7.5
22
Syamsuddin H
Anggota
2.5
-
-
5
23
Irwan
Anggota
3
-
-
9.5
24
Rustam Mare
Anggota
3
-
-
11
25
Abd. Latif
Anggota
3
-
-
3.5
26
Herman
Anggota
3
-
-
11
27
Matta
Anggota
3
-
-
5
28
Laserreng
Anggota
2.5
-
-
4
29
Sudirman Dama
Anggota
2.5
-
-
4.5
Jumalah
71.5
-
-
144.5
Rata-Rata
2.465
-
-
4.98




Lampiran 2. Dokumentasi Kegiatan


Konsentrat Bantuan Program Penguatan Pakan Induk Produktif Oleh Direktorat Jendral Peternakan






Penggembalaan Di Siang Hari Di Lahan Sawah Pasca Panen
                                                
Lahan Penanaman Hijauan (Rumput Gajah/Pennisetum purpureum)
Pemberian Pakan di Sore Hari Sebelum di Kandangkan

Pengandangan Sapi Menjelang Malam

Pemotongan Hijauan dengan Menggunakan Copper di Pagi Hari

Kondisi Gudang Pakan yang Berisi Limbah Jerami Padi Sebagai Pakan Alternatif Saat Kesulitan Mendapatkan Pakan

Diskusi dan Berbagi Informasi Bersama Anggota Kelompok dan PPL


Tidak ada komentar:

Posting Komentar