kita telah berbiara banyak
saya belum mengerti apa pun
otak dan hati ku tidak berfungsi dengan baik
saya lupa berfikir
saya lupa ada rasa
bahkan kulit tak lagi peka
detak jantung terlalu berisik di kesunyian malam
mulut ini tak mampu berucap dalam keramaian
kaki ini kaku saat ingin bergerak
mata melotot tapi taksanggup melihat
nafas normal namun sesak
berisik namun tak mendengar apapun
otak berfikir keras namun tetap kosong
kamu tahu?
ini karena kamu
ini karena rindu
jangan biarkan mimpi hilang dalam tidurmu, begitu pula dalam keadaan nyata.mu. karena mimpi adalah bunga dalam tidurmu, sedangkan di dunia nyatamu mimpi adalah motivasi dalam hidupmu. maka jangan takut untuk bermimpi, karena mimpi itu tidak di bayar. :D
Senin, 15 Mei 2017
Minggu, 19 Februari 2017
karena kisah adalah hidup
Dear
Pernahkah
kamu mendengar sebuah kisah rembulan yang kesepian?
Sebuah
cerita dongeng yang dilantunkan saat sebelum tidur
Sepasang
kekasih yang dipisahkan dari rasa hasut kecemburuan orang lain
Berakhirlah
cinta yang tidak pernah tersampaikan
Lihatlah
hal itu ketika serigala mengaumsaat purnama.
Walau hanya sebuah cerita fiksi,
itu tidak penting!
Banyak hal yang dapat kita petik
dari kisah itu
Sebuah perjuangan, pengorbanan,
keyakinan, keteguhan.
Bahkan sebuah kesetiaan
menunggu.
Saat ini kumulai kisahku sendiri
Memulai dari
sebuah pandangan matamu yang membuatku terkesima
Kumulai
perjuanganku dengan memberanikan untuk memperkanalkan diri
Kumulai
pengorbananku selalu menanti kabar darimu, hingga saat itu
Kuteguhkan
hatiku untuk selalu mengaharapkanmu dan
Keyakinanku
semakin tak terbendung ketika suara indahmu terdengar,
Sampai saat
terbalaskan maka kesetiaanku akan menjaga perasaan ini.
Lantunan doa selalu terpanjatkan
diatas sejadah indah
Setiap sudud penuh dengan
harapan kebahagiaan
Kepada Tuhan Maha melihat, Maha
Menjaga, Maha Memberi dan Maha Kuasa
Agar tuhan selalu melihatmu untukku,
selalu menjagamu untukku, selalu
memberimu
rasa yang saya rasakan, dan semoga Tuhan Maha Kuasa mengijinkan
saya
untuk menjadi pelengkap kesempurnaan kehidupanmu untuk mendapat
rhidonya.
POTENSI SUMBERDAYA PAKAN LIMBAH TANAMAN PERTANIAN
POTENSI SUMBERDAYA PAKAN LIMBAH TANAMAN PERTANIAN DI KELOMPOK TANI
TERNAK SEJARAH KABUPATEN SIDRAP
Oleh
ABDAN BASO
I111 13 532
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017
HALAMAN PENGESAHAN
Nama :
Abdan Baso
No. Stambuk :
I111 13 532
Jurusan :
Peternakan
Program Studi :
Peternakan
Judul Praktek Lapang : Potensi sumberdaya pakan limbah tanaman
pertanian
di kelompok Tani Ternak Sejarah
Kabupaten
Sidrap.
Makassar, Januari 2017
Telah diperiksa dan
disetujui,
Pembimbing Utama
Prof. Dr. Ir. Jasmal A. Syamsu, M.Si
NIP. 19681105
199301 1 001
|
Pembimbing Lapangan
Muh. Yusuf S.Pt
|
Mengetahui :
|
|
Dekan Fakultas
Peternakan
Prof. Dr. Ir. H. Sudirman Baco. M.Sc.
NIP. 19641231 198903 1 025
|
Ketua Program Studi Peternakan
Prof.
Dr. drh. Hj. Ratmawati Malaka, M.Sc.
NIP. 19640712
198911 2 002
|
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahi Rabbil Alamin, puji syukur
kita panjatkan ke hadirat Illahi Rabbi, karena dengan mata-Nya kita melihat,
dengan telinga-Nya kita mendengar, dengan firman-Nya kita berbicara, dan dengan
ruh-Nya kita dihidupkan. Shalawat
dan salam tak lupa penulis haturkan pada Nabiullah Muhammad SAW, ialah sang
revolusioner sejati yang telah menggulung permadani kebatilan dan membentangkan
sajadah-sajadah kebaikan.
Penulis menyadari dalam penulisan Laporan Praktek Kerja Lapang
ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, dengan penuh rasa hormat, penulis
merangkai untaian terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada Prof. Dr. Ir. Jasmal A. Syamsu, M.Si selaku
pembimbing utama dan Bapak Muhammad Yusuf, S.Pt sebagai pembimbing lapangan
yang senantiasa meluangkan waktu, tenaga dan pikiran dalam mengarahkan penulis
merancang dan menyelesaikan penulisan laporan ini, serta kepada semua pihak
yang telah membantu baik dalam pelaksanaan PKL, maupun dalam penulisan laporan.
Rasa terimakasih istimewa kepada orang tua dan keluarga tercinta yang
senantiasa mencurahkan doa dan kasih sayangnya.
Penulis menyadari bahwa laporan Praktek Kerja
Lapang ini masih jauh dari kesempurnaan meski telah berusaha melakukan yang
terbaik. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan
saran ataupun kritikan yang bersifat konstruktif dari pembaca demi
penyempurnaan karya tulis ini. Harapan penulis, semoga karya tulis ini dapat
bermanfaat.
Makassar, Januari 2017
Abdan Baso
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN SAMPUL....................................................................................... i
HALAMAN PENGESAHAN............................................................................ ii
KATA PENGANTAR........................................................................................ iii
DAFTAR ISI....................................................................................................... iv
DAFTAR
TABEL.............................................................................................. v
DAFTAR GAMBAR.......................................................................................... vi
DAFTAR LAMPIRAN...................................................................................... vii
PENDAHULUAN
Latar Belakang ............................................................................................... 1
Maksud dan Tujuan........................................................................................ 2
PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA LAPANG
Waktu dan Tempat.......................................................................................... 4
Materi.............................................................................................................. 4
Metode Pelaksanaan Praktek.......................................................................... 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
Keadaan Umum Peternakan........................................................................... 6
Lokasi Kelompok Tani Ternak Sejarah...................................................... 7
Struktur organisasi Kelompok Tani Ternak
Sejarah................................... 8
Sarana dan prasarana Kelompok Tani Ternak
Sejarah............................... 9
Keadaan Khusus Peternakan.......................................................................... 9
Manajemen Pemeliharaan Ternak Sapi Kelompok
Tani Ternak Sejarah.... 11
Keadaan Pakan Ternak Kelompok Tani Ternak
Sejarah............................ 12
Potensi Ternak Sapi di Kelompok Tani Ternak..........................................
13
Potensi Pakan Limbah Pertanian di Kelompok Tani Ternak...................... 15
KESIMPULAN DAN SARAN.......................................................................... 20
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 21
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
No. Halaman
Teks
1.
Data Kepemilikan Ternak Anggota Kelompok Tani Ternak Sejarah.......... 14
2.
Data Luas Lahan Pertanian Anggota Kelompok Tani Ternak Sejarah....... 15
3.
DAFTAR GAMBAR
No. Halaman
Teks
1.
Lokasi Kelompok Tani Ternak Sejarah,
Kelurahan Uluale,
Kecamatan Watang Pulu, Kabupaten Sidrap............................................. 6
2.
Struktur Organisasi KTT Sejarah Kel. Uluale, Kec. Watang Pulu,
Kab. Sidrap................................................................................................. 7
DAFTAR LAMPIRAN
No. Halaman
Teks
1.
Data Anggota dan Kepemilikan Lahan dan Ternak
Kelompok Tani
Ternak
Sejarah.............................................................................................. 23
2.
Dokumentasi Kegiatan................................................................................. 24
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembangunan
sub sektor peternakan merupakan bagian dari pembangunan pertanian yang
bertujuan untuk menyediakan pangan hewani berupa daging, susu, serta telur yang
bernilai gizi tinggi, meningkatkan pendapatan peternak, meningkatkan devisa
serta memperluas kesempatan kerja di pedesaan. Hal tersebut yang mendorong
pembangunan sub sektor peternakan diperlukan, sehingga pada masa yang akan
datang diharapkan dapat memberikan kontribusi yang nyata dalam pembangunan
bangsa. Pembangunan
yang mampu menyentuh langsung petani peternak adalah pembangunan yang mampu
meningkatkan pendapatan peternak, maka dari itu di pandang perlu dalam
mengembangkan peternakan di lingkup masyarakat. Dalam menapai usaha tersebut
perlunya peternak diramu secara lembaga sehingga mampu bekerjasama dalam
mengembangkan peternakan yang berpusat di masyarakat itu sendiri.
Dalam industri peternakan itu sendiri ada tiga pilar
utama yang harus di penuhi yaitu bibit, pakan, dan pasar. Bibit merupakan
ternak yang akan di kembangkan sedangkan pakan suatu hal mutlak yang harus ada
dalam pengembangan ternak, pakan memiliki peran penting dalam sebuah proses
manajemen peternakan, bahkan dalam hal cost/biaya pakan berkisar 70 – 80 % dari
total pembiayaan. Sedangkan pasar merupakan bagian dari manajemen yang menjadi
dasar dilakukannya proses pengembangan peternakan sehingga mampu menapai
pembangunan kesejahteraan peternak.
Salah satu upaya peningkatan
produksi peternakan dalam negeri yaitu dengan upaya perbaikan manajemen untuk
menghasilkan pertambahan produksi daging
dan kualitas induk sapi . Pakan
merupakan salah satu faktor yang penting dalam usaha peternakan khususnya Sapi.
Asupan nutrisi yang cukup dan berkualitas menjadi syarat untuk tercapainya
produksi daging yang optimal. Pakan yang berkualitas akan sangat mendukung
peningkatan produksi maupun reproduksi ternak (Anggorodi, 1985).
Keberhasilan maupun kegagalan usaha
pemeliharaan ternak banyak ditentukan oleh faktor pakan yang diberikan. Banyak peternak yang tidak
memperhatikan kualitas, kuantitas dan teknik pemberian pakan, sehingga pertumbuhan
maupun produktifitas ternak yang dipelihara tidak tercapai sebagaimana mestinya
dan akibatnya usaha akan menjadi kurang efisien.
Pengembangan
sapi potong perlu mendapat perhatian serius mengingat permintaan daging tidak
dapat dipenuhi di dalam negeri. Salah satu kendala yang sering dijumpai adalah rendahnya
produktivitas ternak karena kualitas pakan rendah. Di lain pihak, potensi bahan
baku pakan lokal seperti limbah pertanian dan perkebunan belum dimanfaatkan
secara optimal, dan sebagian besar digunakan sebagai bahan bakar, pupuk organik
dan bahan baku industri. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan
pemanfaatan limbah pertanian dan perkebunan sebagai pakan ternak dapat dilakukan
melalui peningkatan kualitas limbah pertanian dan perkebunan melalui teknologi
fermentasi, suplementasi dan pembuatan pakan lengkap (complete feed)
(Eko dan Hardianto, 2004)
Dalam mengembangkan ternak sapi potong
tentunya tidak terlepas dari peranan kelompok tani ternak dalam mengupayakan
ternaknya agar mendapat nilai tambah serta efisien dalam pengelolaannya. Upaya
yang perlu dikembangkan dalam membina dan memantapkan kelompok peternak adalah
memperkuat kelembagaan ekonomi petani peternak di pedesaan. Untuk itu
diperlukan pendekatan yang efektif agar petani/peternak dapat memanfaatkan
program pembangunan yang ada, secara berkelanjutan, melalui penumbuhan rasa
memiliki, partisipasi dan pengembangan kreatifitas, disertai dukungan masyarakat
lainnya sehingga dapat berkembang dan dikembangkan oleh masyarakat tani disekitarnya.
Dengan adanya program Praktek Kerja Lapang dapat mensinergikan antara akademisi
dan masyarakat dalam mendapingi kelompok peternak di daerah pedesaan. Hal
inilah yang melatarbelakangi dilaksanakannya Praktek Kerja Lapang (PKL)
mengenai potensi sumberdaya pakan
limbah tanaman pertanian di kelompok Tani Ternak Sejarah, Kabupaten Sidrap.
B.
Maksud dan Tujuan
Maksud dilaksanakannya Praktek Kerja Lapang
(PKL) mengenai potensi sumberdaya pakan
limbah tanaman pertanian di kelompok Tani Ternak Sejarah, Kabupaten Sidrap yakni untuk melaksanakan tugas dan kewajiban
mahasiswa peternakan sebagai salah satu syarat
sebelum lulus di fakulas peternakan universitas hasanuddin, dan bentuk
aplikasi ke masyarakat dari ilmu yang telah di terima dalam proses pembelajaran
Adapun tujuan dari pelaksanaan Praktek Kerja Lapang
(PKL) ini
adalah untuk menambah pengetahuan, pemahaman dan wawasan serta keterampilan
mengenai manajemen pemeliharaan di peternakan rakyat terutama pada pemanfaatan
pakan asal limbah tanaman pertanian sebagai pakan ternak ruminansia. Selain itu,
bertujuan pula untuk meningkatkan kemampuan kompetensi pengembangan
kepribadian, keilmuan dan keterampilan, keahlian berkarya, perilaku berkarya
dan kompetensi berkehidupan bermasyarakat berbasis pada pembelajaran aktif Student Centered Learning (SCL) sebagai
bekal untuk meraih peluang pasar kerja
setelah menyelesaikan kuliah.
PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA LAPANG
Waktu dan Tempat
Praktek Kerja Lapang (PKL) mengenai Potensi sumberdaya Pakan limbah tanaman pertanian di kelompok Tani
Ternak Sejarah Kabupaten Sidrap ini dilaksanakan pada tanggal 19
Agustus – 19 November 2016 di Kelompok
Tani Ternak Sejarah, Kelurahan Bangkai, Kecamatan Watang Pulu, Kabupaten
Sidenreng Rappang
Materi
Alat yang diguanakan adalah sepeda motor, karung, copper,
parang, sabit, kandang jepit, ember,
drum dan pita ukur.
Bahan yang digunakan adalah rumput gajah, jerami padi,
dan konsentrat.
Metode Pelaksanaan Praktek
Metode yang digunakan dalam pelaksanaan Praktek Kerja
Lapang (PKL) ini adalah studi literatur dan partisipasi aktif; learning by doing. Partisipasi aktif
yakni dengan mengikuti segala tahapan dalam manajemen pemeliharaan ternak Sapi terutama
dalam hal manajemen pemberian pakan dan analisis efisiensi penggunaan pakan
serta mengidentifikasi potensi pakan limbah.
Kegiatan yang dilaksanakan di Kelompok Tani Ternak
Sejarah yang bertempat di Kabupaten Sidrap sebagai tempat Praktek Kerja Lapang adalah mengamati dan melaksanakan
secara langsung kegiatan yang berkenaan dengan manajemen pemberian pakan secara
umum, melakukan identifikasi luar lahan pertanian anggota kelompok, melakukan
identifikasi jumlah ternak sapi setiap anggota kelompok, melakukan pencatatan (recording), serta membantu proses
pemeliharaan.
Pengambilan data dilakukan untuk memperoleh data primer
dan data sekunder. Data primer diperoleh dari wawancara dengan tokoh-tokoh yang
terlibat pada kegiatan pemeliharaan Ternak Sapi di Kelompok Tani Ternak Sejarah
Kabupaten Sidrap. Data sekunder meliputi data recording Ternak Sapi yang meliputi PBB, BCS Jumlah pakan yang di
konsumsi, jumlah pemberian konsentrat, data pemberian hijauan dan pemberian
pakan limbah pertanian.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Keadaan Umum Peternakan
Kelompok Tani Ternak (KTT)
Sejarah merupakan kelompok peternak yang terletak di Kelurahan Bangkai,
Kecamatan Wattangpulu, Kabupaten Sidrap. Kelompok peternak ini merupakan
kelompok peternakan yang bergerak dalam usaha ternak besar khususnya sapi. KTT Sejarah memiliki jumlah anggota 29 orang
yang di ketuai oleh bapak Samsuddin dengan jumlah sapi dalam kelompok adalah 176
ekor. Sebagai kelompok tani yang proaktif KTT sejarah juga merupakan salah satu
kelompok yang mendapat bantuan pemerintah dengan Program Sentra Peternakan
Rakyat (SPR) yang terdiri dari Penguatan pakan terhadap Indukan Sapi Potong,
perbaikan sarana dan prasana peternakan, bibit hijauan dan konsentrat. Kelompok
ini juga sebagai sarana komunikasi para anggota yang di koordinir oleh bapak
samsuddin dalam setiap permasalahan yang di hadapi peternak.
Lokasi Kelompok Tani Ternak Sejarah
Lokasi KTT Sejarah terletak di Jalan Toddang
Bojo, Kelurahan Bangkai, Kecamatan Wattang Pulu, Kabupaten Sidenreng Rappang,
Provinsi Sulawesi Selatan. Lokasi KTT Sejarah merupakan jalan kecil bagian dari
Jalan Poros Makassar – Enrekang yang juga sebagai salah satu jalan penghubung
antara dua Kecamatan di Kabupaten Sidrap Kecamatan Wattang Pulu dan Kecamatan
Baranti.
Gambar
1. Lokasi Kelompok Tani Ternak Sejarah,
Kelurahan Uluale, Kecamatan Watang Pulu, Kabupaten Sidrap
Struktur Organisasi Kelompok Tani Ternak Sejarah
Struktur
organisasi merupakan susunan dan hubungan-hubungan antar komponen bagian-bagian
dan posisi-posisi dalam suatu organisasi. Struktur organisasi KTT Sejarah :
Ketua : Samsuddin
Sekertaris : Jumaidil
Bendahara : Aswar
Anggota : Syahril Sayuti Aris
Usman Lessong Amin Sulaiman
Hasbi Abd.
Hamid Syamsuddin H
Langka Sudirman
Dudi Irwan
Sahrir Sudirman
Banani Rustan Mare
Laba Saharuddi Abd. Latif
Baharuddin Juanda Herman
Matta Laserreng Sudirman Dama
Gambar
2. Struktur organisasi
KTT
Sejarah Kel. Uluale, Kec. Watang Pulu, Kab. Sidrap
Sarana dan Prasarana KTT Sejarah
Kelompok Tani Ternak Sejarah memiliki sarana
dan prsarana sebagai berikut :
1.
Kandang Kelompok
2.
Kandang perorangan
3.
Gudang Pakan
4.
Lahan Hijauan
5.
Copper
6.
Motor 3 roda inventaris kelompok
B. Keadaan Khusus Peternakan
Secara umum pola pemeliharaan ternak di
kelompok tani ternak Sejarah menganut sistem semi-intensif. Dimana pada malam
hari di kandangkan dan pada siang hari di gembalakan. Pada dasarnya sistem
pemeliharaan tersebut telah dilakukan oleh hampir semua peternakan rakyat. Akan
tetapi, pada musim tertentu pola pemeliharaan di lakukan secara intensif,
seperti pada musim turun sawah atau pada saat pengolahan sawah untuk siap tanam
hingga panen padi tiba. Pada keadaan tersebut, hijauan yang tersedia secara
liar maupun hasil budidaya setiap anggota Kelompok Tani Ternak Sejarah menjadi
alternatif dalam memnuhi pakan ternak sapi yang dimiliki.
Dari sisi ketersediaan
pakan, Kelompok Tani Ternak sudah mampu mengaplikasikan metode penyimpanan
pakan dengan baik, akan tetapi belum sampai pada proses pengolahan. Hal ini di
buktikan keadaan pakan di gudang pakan di setiap anggota kelompok terdapat
tumpukan-tumpukan jerami padi limbah hasil panen padi yang nantinya diguanakan
sebagai pakan pengganti untuk ternak sapi tersebut. Inilah yang menjadi permasalahan utama di
kelompok tani ternak Sejarah, berlimpahnya pakan limbah hasil pertanian yang
seharusnya dapat diolah menjadi sumber pakan menjadi kurang efektif karena
kurangnya teknologi, informasi dan pengalaman yang dimiliki oleh anggota
kelompok tani ternak Sejarah dalam mengolah pakan.
Limbah
pertanian sangat berpotensi sebagai pakan lokal yang dapat di gunakan sebagai
pakan alternatif, jika diolah dengan baik. Karena Lokasi Peternakan di Kelompok
Tani Ternak Sejarah di kelilingi oleh hamparan sawah yang sangat luas.
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa Kabupaten Sidrap meruapakan wilayah
Swasembada Pada bahkan di juluki sebagai Kota beras. Olehnya itu potensi
tersebut seharusnya diamanfaatkan dengan baik dan sebagian besar jerami padi
menajdi limbah tak terpakai di kebanyakan petani peternak. Hidanah (2007 ),
mengatakan pemanfaatan jerami padi sebagai pakan ternak ber - kisar antara
31-39%, untuk industri 7-16% dan sisanya 36-62% dibiarkan sebagai limbah.
Padahal potensi sebagai pakan ternak ruminant sangt baik, karena memiliki serat
kasar yang tinggi. Preston (2005) menyatakan komposisi kimiawi jerami padi IR
64 adalah bahan kering 91,29%, protein kasar 4,10%, serat kasar 33,35%, lemak
kasar 3,88%. Abu 21,35% dan bahan organik 69,94%.
Manajemen Pemeliharaan Ternak Sapi Kelompok Tani Ternak Sejarah
Usaha
peternakan menjadi modal penting bagi terwujudnya program pemerintah yaitu
swasembada daging. Para peternak sebagai pemegang peranan penting dalam usaha
ini haruslah mampu bersikap bijak dan terampil dalam memelihara ternak mereka.
Di dalam menghasilkan produktivitas yang tinggi maka banyak hal yang harus
dilakukan diantaranya manajemen pemeliharaan yang baik. Manajemen pemeliharaan
ternak sapi di setiap anggota Kelompok Tani Ternak Sejarah adalah dengan pola semi
intensif.
Para anggota kelompok melakukan
pemeliharaan dengan sistem mengkombinasikan antara pola intensif (dikandangkan)
dan konvensional (digembalakan). Manajemen pemeliharaan sapi potong meliputi pakan
yang diberikan, penanganan kesehatan, perkandangan serta perkawinan baik secara
alami maupun teknologi inseminasi buatan. Jenis sapi yang dipelihara oleh
peternak yaitu sapi Simmental, sapi Peranakan Ongole (PO), sapi Limousin, sapi
Brahman dan sapi Bali.
Dari kegiatan pemeliharaan ternak, dapat
dilihat bahwa peternak melakukan kombinasi antara pertanian dan peternakan.
Ternak yang di lepaskan di persawahan akan mengonsumsi libah jerami dan rumput
liar yang tumbuh di sawah dan secara tidak lansung sawah mendapatkan pengolahan
melalui bajakan yang dilakukan sapi saat di gembalakan di sawah, sedangkan
kotoran ternak sapi menjadi tambahan pupuk di lahan sawah tersebut.
Penelitian Yusmichad Yusdja, dkk. (2004),
menyebutkan bahwa pada dasarnya ada 6 bentuk struktur penguasaan dan
pengusahaan ternak yang dapat dipahami yakni;
1. Kelompok
peternakan rakyat wilayah tanaman pangan. Pemeliharaan ternak sapi bersifat
tradisional dan pemilikan sapi erat kaitannya dengan usaha pertanian. Bentuk
ini umumnya ditemukan di pulau Jawa.
2. Kelompok
peternakan rakyat yang tidak terkait dengan tanaman pangan. Pemeliharaan sapi
bersifat tradisional dan pemilikan erat kaitannya dengan ketersediaan padang
penggembalaan atau hijauan. Bentuk pemeliharaan ternak seperti ini sudah umum
di Sumatera dan Indonesia Bagian Timur.
3. Kelompok
peternakan rakyat dengan sistem bagi hasil. Pemeliharaan ternak mempunyai
tujuan yang tergantung pada kesepakatan.
4. Kelompok
usaha peternakan rakyat dan skala kecil. Pemeliharaan bersifat intensif.
5. Kelompok
usaha peternakan skala menengah. Pemeliharaan sapi sangat intensif, penggunaan
teknologi rendah. Kelompok ini terbagi dua :
a. Kelompok
usahaternak sapi potong mandiri.
b. Kelompok
usahaternak sapi potong bermitra.
6. Kelompok
usaha peternakan swasta skala besar (feedlotters). Pemeliharaan sapi dilakukan
intensif, menggunakan teknologi tinggi.
Keadaan Pakan Ternak Kelompok Tani Ternak Sejarah
Kelompok
Tani Ternak Sejarah Merupakan salah satu kelompok yang mendapat bantuan Program
Direktorat Jenderal Peternakan yaitu Penguatan Pakan Pada Sapi Indukan. Program
tersebut bertujuan untuk meningkatkan performa sapi indukan yang masih
produktif sehingga diharapkan mampu memperbaiki kondisi tubuh indukan sapi dan
lebih produktif. Item dari program tersebut adalah pemberian konsentrat, bibit
hijauan ( Rumput Gajah/pennicetum
purpureum), copper, Renovasi Gudang pakan dan Perbaikan sarana Air bersih.
Setiap Anggota Kelompok Sejarah telah mampu
melakukan penyimpanan pakan cadangan yang nantinya akan diguanakan saat musim
kemarau atau saat kekurangan pakan. Namun, belum adanya inovasi dan kreatifitas
anggota kelompok untuk mengolah pakan tersebut menjadi pakan yang lebih baik
menjadi tidak maksimal dalam penyediaan pakan oleh peternak. Padahal dengan
berlimpahnya pakan limbah jerami menjadi potensi yang sangat besar jika
diberikan sedikit teknologi. Hal ini di akibakan kurangnya pengalaman,
informasi dan pengetahuan akan teknologi pengolahan pakan.
Menurut Pranadji
(2000), bahwa sebagian besar usahatani apapun lemah dalam modal dan penguasaan
teknologi, terlihat salah satu sumber ketidak efisienan sistem usahatani
tanaman-ternak petani saat ini adalah kelembagaan usahatani yang relatif lemah.
Di bidang peternakan penyebaran informasi teknologi dari berbagai sumber sangat
kurang, sehingga pengetahuan petani mengenai manajemen pemeliharaan ternak sapi
relatif rendah (Zaenuri et al, 2003).
Potensi Ternak Sapi Kelompok Tani Ternak Sejarah
Kelompok
tani ternak Sejarah bergerak dalam usaha ternak ruminansia khususnya ternak
sapi. Setiap anggota kelompok memili rata-rata 4-5 ekor ternak sapi per orang
dengan jumlah total sapi dalam kelompok adalah 176 ekor. Dengan jumlah tersebut
kelompok tersebut memiliki potensi untuk terus dikembangkan hingga menjadi
industri peternakan jika didamping dengan baik oleh pihak pemerintah. Berikut
dapat di lihat potensi kepemilikan ternak oleh Kelompok Tani Ternak Sejarah.
Tabel 1. Data Kepemilikan Ternak Anggota kelompok
Tani Ternak Sejarah
No.
|
Nama Anggota
|
Jumlah
Sapi (ekor)
|
Kepemilikan Ternak (ekor)
|
Jumlah Ternak
(ST)
|
||||
Jantan
|
Betina
|
Anak
|
Muda
|
Dewasa
|
||||
1
|
Samsuddin
|
9
|
5
|
4
|
1
|
-
|
8
|
8.5
|
2
|
Jumaidil
|
8
|
2
|
6
|
3
|
2
|
3
|
5.5
|
3
|
Aswar
|
5
|
1
|
4
|
2
|
-
|
3
|
4
|
4
|
Syahril
|
6
|
2
|
4
|
2
|
1
|
3
|
4.5
|
5
|
Usman
|
3
|
-
|
3
|
1
|
-
|
2
|
2.5
|
6
|
Hasbi
|
1
|
-
|
1
|
-
|
-
|
1
|
1
|
7
|
Langka
|
1
|
-
|
1
|
-
|
-
|
1
|
1
|
8
|
Sahrir
|
5
|
-
|
5
|
2
|
-
|
3
|
4
|
9
|
Laba
|
2
|
-
|
2
|
-
|
-
|
2
|
2
|
10
|
Lamiru
|
5
|
2
|
3
|
2
|
-
|
3
|
4
|
11
|
Baharuddin
|
3
|
-
|
3
|
-
|
1
|
2
|
2.5
|
12
|
Sayuti
|
5
|
3
|
2
|
2
|
1
|
2
|
3.5
|
13
|
Lessong
|
3
|
1
|
2
|
1
|
-
|
2
|
2.5
|
14
|
Abd.
Hamid
|
10
|
3
|
7
|
2
|
4
|
4
|
7
|
15
|
Sudirman
Dudi
|
3
|
1
|
2
|
1
|
-
|
2
|
2.5
|
16
|
Anwar
|
4
|
1
|
3
|
1
|
3
|
3.5
|
|
17
|
Saharuddin
|
3
|
-
|
3
|
-
|
2
|
1
|
2
|
18
|
Sudirman
Banani
|
20
|
4
|
15
|
4
|
5
|
11
|
15.5
|
19
|
Juwanda
|
4
|
1
|
3
|
2
|
-
|
2
|
3
|
20
|
Aris
|
3
|
-
|
3
|
-
|
1
|
2
|
2.5
|
21
|
Amin
Sulaiman
|
9
|
1
|
8
|
3
|
-
|
6
|
7.5
|
22
|
Syamsuddin
H
|
5
|
-
|
5
|
-
|
-
|
5
|
5
|
23
|
Irwan
|
12
|
5
|
7
|
3
|
2
|
7
|
9.5
|
24
|
Rustam
Mare
|
14
|
3
|
11
|
3
|
3
|
8
|
11
|
25
|
Abd.
Latif
|
5
|
2
|
3
|
2
|
1
|
2
|
3.5
|
26
|
Herman
|
12
|
9
|
3
|
2
|
-
|
10
|
11
|
27
|
Matta
|
6
|
3
|
3
|
2
|
-
|
4
|
5
|
28
|
Laserreng
|
5
|
1
|
4
|
1
|
1
|
3
|
4
|
29
|
Sudirman
Dama
|
5
|
1
|
4
|
1
|
-
|
4
|
4.5
|
Jumlah
|
176
|
51
|
124
|
43
|
24
|
109
|
142.5
|
|
Rata-rata
|
6.07
|
2.55
|
4.28
|
1.95
|
2
|
3.76
|
4.91
|
|
Sumber : Data
Primer Praktek Kerja Lapang (PKL) Kelompok Tani Ternak Sejarah Tahun 2016.
Berdasarkan data tabel 1 dari
hasil identifikasi jumlah ternak di kelompok tani ternak sejarah di peroleh
bahwa jumlah ternak keseluruhan sebanyak 176 ekor yang terbagi atas 51 ekor
jantan dan 124 ekor betina serta terdiri dari 43 ekor anak, 24 ekor muda dan
109 ekor sapi dewasa yang mana dalam satuan ST berjumlah 142.5 ST dengan
rata-rata setiap anggota memiliki 6 ekor sapi.
Dari data tersebut kelompok tani ternak sejarah memiliki potensi sebagai
usaha peternakan sapi yang berbasis peternakan rakyat jika di kelola dengan
baik.
Potensi Pakan Limbah Pertanian Kelompok Tani Ternak Sejarah
Lokasi dengan hamparan sawah yang luas menjadikan
kelompok tani ternak Sejarah memiliki potensi pakan limbah yang sangat
berlimpah. Setiap anggota kelompok memiliki lahan pertanian sawah dengan rata
2-3 Ha. Ini menujukkan potensi jerami padi yang sangat berlimpah yang dapat
digunakan sebagai pakan sumber serat kasar untuk ternak sapi. Luas lahan sawah
yang dimiliki setiap anggota Kelompok Tani Ternak Sejarah sebagai berikut.
Tabel.1 Data Luas Lahan
Sawah Anggota Kelompok Tani Ternak Sejarah
No.
|
Nama
|
Luas
Lahan Pertanian (Ha)
|
Jumlah
ternak (ST)
|
||
Padi
|
Jagung
|
Dll.
|
|||
1
|
Samsuddin
|
3
|
-
|
-
|
8.5
|
2
|
Jumaidil
|
2
|
-
|
-
|
5.5
|
3
|
Aswar
|
2
|
-
|
-
|
4
|
4
|
Syahril
|
2
|
-
|
-
|
4.5
|
5
|
Usman
|
1.5
|
-
|
-
|
2.5
|
6
|
Hasbi
|
2
|
-
|
-
|
1
|
7
|
Langka
|
2
|
-
|
-
|
1
|
8
|
Sahrir
|
3
|
-
|
-
|
4
|
9
|
Laba
|
2.5
|
-
|
-
|
2
|
10
|
Lamiru
|
2.5
|
-
|
-
|
4
|
11
|
Baharuddin
|
1.5
|
-
|
-
|
2.5
|
12
|
Sayuti
|
5
|
-
|
-
|
3.5
|
13
|
Lessong
|
2
|
-
|
-
|
3.5
|
14
|
Abd.
Hamid
|
2.5
|
-
|
-
|
8
|
15
|
Sudirman
Dudi
|
2.5
|
-
|
-
|
2.5
|
16
|
Anwar
|
1.5
|
-
|
-
|
3.5
|
17
|
Saharuddin
|
1.5
|
-
|
-
|
2
|
18
|
Sudirman
Banani
|
3
|
-
|
-
|
15.5
|
19
|
Juwanda
|
2.5
|
-
|
-
|
3
|
20
|
Aris
|
2.5
|
-
|
-
|
2.5
|
21
|
Amin
Sulaiman
|
2
|
-
|
-
|
7.5
|
22
|
Syamsuddin
H
|
2.5
|
-
|
-
|
5
|
23
|
Irwan
|
3
|
-
|
-
|
9.5
|
24
|
Rustam
Mare
|
3
|
-
|
-
|
11
|
25
|
Abd.
Latif
|
3
|
-
|
-
|
3.5
|
26
|
Herman
|
3
|
-
|
-
|
11
|
27
|
Matta
|
3
|
-
|
-
|
5
|
28
|
Laserreng
|
2.5
|
-
|
-
|
4
|
29
|
Sudirman
Dama
|
2.5
|
-
|
-
|
4.5
|
Jumalah
|
71.5
|
-
|
-
|
142.5
|
|
Rata-Rata
|
2.465
|
-
|
-
|
4.98
|
|
Sumber : Data Primer
Praktek Kerja Lapang (PKL) Kelompok Tani Ternak Sejarah Tahun
2016.
Jerami Padi merupakan limbah
pertanian yang paling banyak tersedia dan sering digunakan sebagai bahan pakan
pada saat persediaan rumput berkurang. Namun salah satu kekurangan jerami padi
yaitu kandungan nutrisinya yang rendah, antara lain karena dinding selnya
tersusun oleh selulosa, lignin dan silika, sehingga dalam pemanfaatan jerami
padi diperlukan suplementasi bahan yang berkualitas kemudian diolah agar nilai
gizinya dapat ditingkatkan. Salah satu upaya untuk membantu memecahkan
permasalahan kualitas pakan adalah melakukan pengolahan.
Penggunaan jerami padi untuk pakan
ternak tidak dapat digunakan sebagai sumber pakan ternak tunggal. Karena
kandungan nutrientnya dapat dikatakan jelek terlebih lagi kandungan serat kasar
yang cukup tinggi. Berbagai perlakuan terhadap jerami padi untuk meningkatkan
nilai gizi telah banyak digunakan. Namun untuk pemanfaatan pakan di pedesaan,
tampaknya suplementasi jerami padi dengan sisa hasil industri pertanian ataupun
tanaman leguminosa merupakan pilihan yang mudah diterapkan (Martawidjaja,
2013).
Menurut
Syamsu dan Abdullah (2008), Rata-rata produksi segar jerami padi di Sulawesi
Selatan sebesar 11,89 t/ha. Rata-rata produksi bahan kering jerami padi 5,94
t/ha, dengan kisaran produksi terendah 3,58 t/ha dan tertinggi 8,53 t/ha.
Adanya variasi produksi bahan kering jerami padi disebabkan oleh adanya
perbedaan cara panen padi, yaitu padi yang dipanen dengan menggunakan mesin
(alsintan) pemotongan dilakukan pada bagian aerial sehingga jerami padi yang
diperoleh lebih sedikit dibandingkan dengan padi yang dipanen menggunakan sabit
dilakukan pemotongan sekitar 10 cm dari atas tanah sehingga diperoleh jerami
padi yang lebih banyak.
Daya dukung
limbah pertanian dihitung dari total pakan dari masing-masing limbah pertanian yang
tersedia terhadap jumlah kebutuhan pakan bagi sejumlah populasi sapi potong di
wilayah itu (Juarini dan Sumanto,
2000). Indeks daya
dukung limbah pertanian dihitung berdasarkan berat segar/berat kering, Protein
Kasar (PK) dan Total digestible Nutrien
(TDN) dari pakan limbah pertanian.
Dalam menghitung daya dukung limbah
jerami padi digunakan beberapa asumsi kebutuhan pakan ternak ruminansia. Asumsi
yang digunakan yaitu bahwa satu satuan ternak (1 ST) ternak ruminansia
rata-rata membutuhkan bahan kering (BK) adalah 6,25 kg/hari (NRC, 1984),
kebutuhan protein kasar adalah 0,66 kg/hari dan kebutuhan total digestible
nutrient (TDN) adalah 4,3 kg/hari. Daya dukung limbah jerami padi
berdasarkan bahan kering, protein kasar dan TDN dihitung menurut Syamsu et
al. (2005). Status daya dukung pakan menurut indeks daya dukung pakan
membedakan kriteria : sangat kritis <2, kritis 2-3, rawan >3-4, aman
>4-5 dan sangat aman >5 (Ashari et al, 1995).
Daya dukung limbah pertanian sebagai
pakan di kelompok tani ternak Sejarah dapat dilihat sebagai berikut :
Jika konsumsi rata-rata jerami padi
oleh setiap 1 ST adalah 6,25 kg maka dalam setahun adalah Jumlah hari dalam satu
tahun x konsumsi rata-rata jerami padi perhari .
Konsumsi
rata-rata BK jerami padi pertahun = 365 hari x 6.25 kg/hari
= 2281.25 kg
=
2.28125 ton
Jadi
konsumsi rata-rata BK jerami padi pertahun adalah 2.28125 ton/ST
Jika Rata-rata
produksi produksi bahan kering jerami padi 5,94 ton/ha/tahun, maka produksi
rata-rata dari luas lahan di kelompok tani ternak Sejarah adalah jumlah luas
lahan sawah x jumlah produksi rata-rata bahan kering jerami.
Produksi
jerami rata-rata kelompok = 71.5 ha x 5.94 ton/ha
= 424.71 ton.
Jadi
produksi rata-rata jerami padi kelompok adalah 424.71 ton/tahun
Maka daya dukung limbah pertanian
khususnya jerami padi di kelompok tani ternak sejarah adalah
= 1.306
Jadi,
daya dukung pakan limbah pertanian khususnya jerami padi adalah 1. 306 dan
termasuk dalam kriteria kritis yaitu <2.
Berdasarkan kondisi yang ada pada
kelompok tani ternak sejarah, pakan limbah belum termanfaatkan dengan baik.
karena kurangnya informasi dan teknologi yang dimiliki dalam mengolah limbah
tersebut. Kelompok tani ternak Sejarah lebih memfokuskan pada hijauan yang
ditanam dan rumput liar yang ada sikitar lahan pertanian.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Pakan limbah hasil pertanian di Kelompok Tani Ternak
Sejarah di Kelurahan Uluale, Kecamatan Watang Pulu, Kabupaten Sidrap memiliki
potensi yang sangat besar jika hanya memenuhi kebutuhan ternak dalam kelompok.
Dalam kegiatan pemeliharaan ternak sapi Kelompok Tani Ternak Sejarah
menggunakan metode semi intensif. Serta penerapan teknologi untuk
mengoptimalkan potensi pakan yang ada pada wilayah kelompok masih belum
maksimal hanya sebatas teknologi penyimpanan. Potensi ternak di kelompok tani
ternak sejarah sangat dapat dikembangkan, dari jumlah sapi di kelompok yaitu
176 ekor dengan rata-rata kepemilikan 6 ekor per anggota kelompok dapat lebih
dikembangkan jika di damping dengan baik. potensi pakan limbah pertanian dapat
di lihat dari daya dukungnya terhadap jumlah ternak. Daya dukung dari limbah
pertanian khusunya jerami padi pada kelompok tani ternak Sejarah adalah 1.306 dan
termasuk dalam kategori kritis yaitu dibawah dari angka 2.
Saran
Perlunya
dilakukan pendampingan khusus untuk para peternak oleh pihak akademisi untuk
memberi arahan mengenai teknologi pengolahan dan juga manajemen pemeliharaan
yang baik agar potensi potensi peternakan yang ada di masyarakat, khususnya di
peternakan rakyat dapat lebih optimal.
DAFTAR PUSTAKA
Anggorodi, 1985. Kemajuan Mutakhir
dalam Ilmu Makanan Ternak Unggas. Universitas Indonesia: Jakarta.
Eko, D. W. dan Hardianto, R. 2004. Pemanfaatan sumber daya
pakan lokal untuk pengembangan usaha sapi potong. Lokakarya Nasional Sapi
Potong. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur. hlm.66-76.
Hidanah S. 2007. Isolasi Bakteri dan Jamur Selulolitik
sebagai Inokulum Untuk Meningkatkan Jera mi Padi dan Produktivitas Domba. Di
sertasi Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya.
Martawidjaja, M. 2013. Pemanfaatan Jerami Padi Sebagai Pengganti Rumput
Untuk Ternak Ruminansia Kecil. Balai Penelitian Ternak, Po Box 221, Bogor
16002. Wartazoa Vol. 13 No. 3 Th. 2003 119.
NRC (NATIONAL RESEARCH COUNCIL). 1984. Nutrient Requirement
of Beef Cattle. 6th Rev. Ed. National Academy Press, Washington DC.
Pranadji. T.,2000. Beberapa Aspek Untuk Antisipasi
Pembangunan Pertanian Abad 21. Makalah disampaikan pada Pelatihan ;Pemahaman
Aspek Sosial dan Budaya Masyarakat Dalam Perencanaan dan Penerapan Teknologi.
Kerjasama Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian UNPAD dengan
Badan Litbang Pertanian. Jatinangor, Sumedang.
Preston L. 2005. Feed Composition Tables.
http://Beef-Mag.com/Mag/Beef Feed. Composi tion Tables.
SYAMSU, J.A., L.A. SOFYAN, K. MUDIKDJO, E.G. SA’ID dan E.B.
LACONI. 2005. Analisis Potensi Limbah Tanaman Pangan sebagai Sumber Pakan
Ternak Ruminansia di Sulawesi Selatan. J. Ilmiah Ilmu-ilmu Peternakan 8(4): 291
– 301.
Syamsu, J. A. dan Abdullah, A. 2008. Prospektif jerami padi sebagai sumber pakan Untuk pengembangan ternak
ruminansia di Sulawesi selatan. Fakultas
Peternakan Universitas Hasanuddin, Jl. Perintis Kemerdekaan Km. 10, Makassar.
Seminar Nasional. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. hlm.847
– 852.
Yusdja.Y. dkk, 2004. Pemantapan Program Dan Strategi
Kebijakan Peningkatan Produksi Daging
Sapi. Pusat Penelitian Dan Pengembangan Sosial Ekonomi
Pertanian.Bogor.
Zaenuri. L.A., Tanda S. Panjaitan, Hermansyah Pany,
Dahlanuddin dan Muzani, 2003. Persepsi Perternak NTB Terhadap Sapi Bali.
Laporan hasil Survei Kerjasama BPTP NTB dengan Fakultas Peternakan Universitas
Mataram. Mataram.
LAMPIRAN
Lampiran 1. Data Anggota dan Kepemilikan Lahan dan Ternak Kelompok Tani Ternak Sejarah
No.
|
Nama
|
Jabatan
|
Luas
Lahan Pertanian (Ha)
|
Jumlah
ternak (ST)
|
||
Padi
|
Jagung
|
Dll.
|
||||
1
|
Samsuddin
|
Ketua
|
3
|
-
|
-
|
8.5
|
2
|
Jumaidil
|
Sekertaris
|
2
|
-
|
-
|
5.5
|
3
|
Aswar
|
Bendahara
|
2
|
-
|
-
|
4
|
4
|
Syahril
|
Anggota
|
2
|
-
|
-
|
4.5
|
5
|
Usman
|
Anggota
|
1.5
|
-
|
-
|
2.5
|
6
|
Hasbi
|
Anggota
|
2
|
-
|
-
|
1
|
7
|
Langka
|
Anggota
|
2
|
-
|
-
|
1
|
8
|
Sahrir
|
Anggota
|
3
|
-
|
-
|
4
|
9
|
Laba
|
Anggota
|
2.5
|
-
|
-
|
2
|
10
|
Lamiru
|
Anggota
|
2.5
|
-
|
-
|
4
|
11
|
Baharuddin
|
Anggota
|
1.5
|
-
|
-
|
2.5
|
12
|
Sayuti
|
Anggota
|
5
|
-
|
-
|
3.5
|
13
|
Lessong
|
Anggota
|
2
|
-
|
-
|
3.5
|
14
|
Abd.
Hamid
|
Anggota
|
2.5
|
-
|
-
|
8
|
15
|
Sudirman
Dudi
|
Anggota
|
2.5
|
-
|
-
|
2.5
|
16
|
Anwar
|
Anggota
|
1.5
|
-
|
-
|
3.5
|
17
|
Saharuddin
|
Anggota
|
1.5
|
-
|
-
|
2
|
18
|
Sudirman
Banani
|
Anggota
|
3
|
-
|
-
|
15.5
|
19
|
Juwanda
|
Anggota
|
2.5
|
-
|
-
|
3
|
20
|
Aris
|
Anggota
|
2.5
|
-
|
-
|
2.5
|
21
|
Amin
Sulaiman
|
Anggota
|
2
|
-
|
-
|
7.5
|
22
|
Syamsuddin
H
|
Anggota
|
2.5
|
-
|
-
|
5
|
23
|
Irwan
|
Anggota
|
3
|
-
|
-
|
9.5
|
24
|
Rustam
Mare
|
Anggota
|
3
|
-
|
-
|
11
|
25
|
Abd.
Latif
|
Anggota
|
3
|
-
|
-
|
3.5
|
26
|
Herman
|
Anggota
|
3
|
-
|
-
|
11
|
27
|
Matta
|
Anggota
|
3
|
-
|
-
|
5
|
28
|
Laserreng
|
Anggota
|
2.5
|
-
|
-
|
4
|
29
|
Sudirman
Dama
|
Anggota
|
2.5
|
-
|
-
|
4.5
|
Jumalah
|
71.5
|
-
|
-
|
144.5
|
||
Rata-Rata
|
2.465
|
-
|
-
|
4.98
|
||
Lampiran 2. Dokumentasi Kegiatan
Konsentrat Bantuan
Program Penguatan Pakan Induk Produktif Oleh Direktorat Jendral Peternakan
Penggembalaan Di Siang Hari Di Lahan Sawah Pasca Panen
Lahan
Penanaman Hijauan (Rumput Gajah/Pennisetum
purpureum)
Pemberian Pakan di Sore Hari Sebelum di Kandangkan
Pengandangan Sapi Menjelang Malam
Pemotongan Hijauan
dengan Menggunakan Copper di Pagi Hari
Kondisi Gudang Pakan yang Berisi Limbah Jerami Padi Sebagai Pakan
Alternatif Saat Kesulitan Mendapatkan Pakan
Diskusi dan Berbagi
Informasi Bersama Anggota Kelompok dan PPL
Langganan:
Postingan (Atom)