POLA PENGGEMUKAN SAPI DENGAN
PEMBERIAN PAKAN AMONIASI JERAMI DAN KONSENTRAT
PENDAHULUAN
Pembangunan sektor pertanian merupakan
bagian integral dari pembangunan ekonomi, oleh karena itu pembangunan sektor pertanian
harus memiliki konsep dan orieantasi pada akselerasi pembangunan ekonomi.
Percepatan dalam pembangunan pertanian dapat merangsang percepatan dalam
pencapaian tujuan pembangunan ekonomi. Dengan demikian pembangunan pertanian
harus berorientasi pada upaya meningkatkan pendapatan keluarga petani dan
meningkatkan nilai tambah sektor pertanian.
Pembangunan subsektor peternakan
memiliki makna strategis dalam upaya akselerasi pembangunan sektor pertanian
dan sektor ekonomi. Pembangunan
subsektor peternakan dapat memperkokoh pencapaian tujuan pembangunan
ekonomi baik secara makro melalui pendapatan domestik bruto maupun secara mikro
melalui perbaikan pendapatan peternak.
Dalam pembangunan ekonomi subsektor
peternakan mempunyai peranan yang penting sebab dapat berfungsi sebagai: a)
penyumbang pangan hewani berupa daging, susu dan telur, b) sumber pendapatan bagi peternak, c)
penghasil devisa, d) penyedia lapangan pekerjaan, e) sasaran konservasi
lingkungan melalui daur ulang pupuk kandang dan f) merupakan prestis sosial.
(Muhammad, 1993).
Pertumbuhan ekonomi, meningkatnya
jumlah penduduk, kemajuan di bidang pendidikkan dan kesehatan serta peningkatan
kesadaran gizi masyarakat merupakan faktor gabungan yang menyebabkan konsumsi
makanan khususnya protein hewani meningkat dari tahun ke tahun. Permintaan yang
terus meningkat tersebut apa bila tidak
diimbangi dengan peningkatatan produksi atau penyediaan daging, susu dan telur
maka akan terjadi kesenjangan yang cukup basar.
Sejalan dengan meningkatnya permintaan
pasar akan daging, maka perlu diadakan penambahan populasi ternak potong
dan perbaikan pengelolaannya.
Penggemukan ternak sapi merupakan usaha mengubah bentuk zat-zat makanan ternak
menjadi hasil ternak yang dapat dimanfaatkan oleh manusia, terutama diusahakan
agar ternak sapi secara efisien dapat mengubah sejumlah makanan yang dikonsumsi
menjadi sejumlah daging. Upaya untuk meningkatkan produksi daging bukan hal
yang mudah mengingat sumber-sumber produksinya bersifat biologis. Faktor-faktor
pendukung seperti pakan, manajemen dan lingkungan mempunyai pengaruh yang
sangat besar terhadap pertumbuhan ternak.
Perusahaan penggemukan ternak sapi (feedloter) akan berusaha untuk dapat
mencapai pertumbuhan bobot badan
ternaknya seoptimal mungkin, dalam
waktu yang relatif singkat. Laju pertambahan bobot badan harian ternak
sapi sangat ditentukan oleh keunggulan
genetik dari setiap ternak. Selain faktor genitik, pakan, manajemen dan
lingkungan juga merupakan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan
bobot badan, perbandingannya 30 persen dan 70 persen (Usri dan Santosa,
1982).
Pembangunan subsektor perternakan,
perlu dilakukan reorientasi tentang cara pendekatanya. Pendekatan di bidang
peternakan tidak cukup hanya melalui pendekatan budidaya saja, akan tetapi
perlu ditindak lanjuti melalui pendekatan agribisnis. Dengan demikian kawasan
peternakan harus dipandang sebagai industri biologis yang dikendalikan oleh
manusia untuk itu ada 4 aspek penting
yang pelu diperhatikan, yaitu: 1) peternak sebagai subjek harus ditingkatkan
pendapatan dan kesejahteraannya, 2) ternak sebagai objek harus ditingkatkan produksi dan
produktivitasnya, 3) lahan serta lingkungan sebagai basis ekologi dan ekosistem
harus digunakan secara lestari dan seimbang untuk menghasilkan pakan dan
lingkungan yang bebas penyakit dan 4) teknologi sebagai alat untuk mencapai
tujuan.
Berdasarkan uraian tersebut di atas,
maka apabila kita akan mengusahakan
penggemukan sapi potong agar menguntungkan maka ada tiga kunci yang
sangat perlu untuk diperhatikan yaitu:
1.
Pola pembelian
sapi bakalan
2.
Pola
budidayanya
3.
Pola penjualan
sapi siap potong
PEMBAHASAN
1. Pola Pembelian Sapi Bakalan
Dalam pembelian sapi bakalan
yang perlu diperhatikan adalah genitik, umur sapi, performance dan
harga.
Genetik,
pada dewasa ini di pasar-pasar hewan sudah banyak tersedia jenis sapi potong
yang berkualitas unggul seperti sapi peranakan onggol, sapi simental, sapi limosin, sapi carolis,
angngus dan berbagai pesilangannya.
Umur
sapi, dalam memilih sapi bakalan usahakan yang masih pada umur-umur
produktif yaitu tidak terlalu muda dan
tidak terlalu tua, atau pada kisaran umur di atas satu tahun dan di bawah lima
tahun.
Performance
sapi, pilih sapi bakalan yang sehat, postur tubuhnya tinggi, panjang,
berdirinya tegap, kulitnya masih kendor dan penampilannya serasi.
Harga,
dalam membeli sapi bakalan usahakan agar tidak terlalu mahal, artinya selisih
harga beli perkilogram jangan terlalu jauh bila dibandingkan dengan harga jual
perkilogramnya.
2. Pola Budidayanya
Penggemukan sapi potong dapat dilakaukan dengan berbagai
cara, yaitu dengan cara tradisional, dengan cara semi intensif dan dengan cara
intensif.
Dengan
cara tradisional
Cara ini bisa kita temui pada pemeliharaan sapi diluar jawa
pada umumnya, di mana masih tersedia padang penggembalaan yang sangat luas,
sehingga pada pagi hari sapi-sapi dilepas dari kandang untuk mencari makan
sendiri, kemudian pada sore hari sapi-sapi dihalau untuk masuk kandang kembali.
Pola pemeliharaannya masih sangat sederhana baik pakan, perkawinan maupun
kesehatan ternak tidak begitu diperhatikan, sehingga pertumbuhan sapi sangat
lambat dan tingkat kematian tinggi.
Dengan
cara semi intensif
Cara ini biasa dilakukan oleh peternak kecil di pedesaaan
jawa pada umumnya. Peternak memelihara sapi antar 1 sampai dengan 3 ekor,
dibuatkan kandang disekitar pekarangan rumah, atau dipersawahan dalam bentuk
kelompok usaha ternak sapi potong (kunak). Setiap hari sapi-sapi dicarikan
rumput lapang atau limbah pertanian lainnya seperti jerami padi, batang jagung
dan pohan kacang. Sekali waktu sapi-sapi diberi pakan tambahan berupa singkong
atau dedak padi kalau kebetulan petani habis panen.
Dengan
cara intensif
Cara ini bisa ditemukan pada perusahaan penggemukan sapi
potong (feedloter). Pada perusahaan-perusahaan penggemukan sapi dituntut untuk
dapat menghasilkan daging dengan cepat dan berkualitas baik, untuk itu maka
pemilihan sapi bakalan, pemberian pakan dan kesehatan sangat diperhatikan agar
pemeliharaannya efisien.
Pola penggemukan sapi dengan pemberian pakan amoniasi jerami
dan konsentrat, ini adalah merupakan salah satu teknologi pakan yang bisa
digunakan untuk memacu pertumbuhan sapi menjadi lebih cepat, dikatakan lebih
cepat karena dengan pemberian pakan seperti ini pertambahan bobot harian sapi
meningkat dari 0,5 kilo gram pada
pemeliharaan tradisional maupun semi intensif dapat meningkat menjadi 1 sampai
dengan 1,5 kilo gram per hari.
Amoniasi
jerami
Pemenuhan kebutuhan hijauan sebagai
makanan pokok ternak menggunakan hijauan kering seperti jerami padi adalah
merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi perbedaan kepentingan
penggunaan lahan sawah untuk tanaman rumput dan untuk mengatasi produktifitas
rumput yang rendah pada mamusim kemarau.
Jerami padi sebagai limbah
pertanian tersedia begitu banyak pada musim panen, tetapi belum banyak
dimanfaatkan karena nilai nutrisinya rendah. Oleh karena itu untuk meningkatkan kualitas jerami padi
sebagai pakan ternak harus diberi perlakuan tertentu seperti menambahkan urea
antara 3% - 5%, air 10% dan tepung onggok 2% pada jerami padi kering (sering
disebut dengan istilah amoniasi jerami), setelah itu jerami ditutup rapat
dibiarkan selama tiga minggu (21 hari) dan selanjutnya setelah 21 hari jerami
amonoasi tersebut di angin-anginkan baru kemudian bisa diberikan kepada ternak.
Cara membuatnya jerami ditebar merata dengan ketebalan 10 cm dalam ruangan yang
sudah disiapkan, taburi dengan campuran air, urea dan onggok sampai merata
selanjutnya tebarkan lagi jerami diatasnya sebagai lapisan kedua dengan
ketebalan yang sama seperti pada lapisan pertama dan taburi campuran air, urea
dan onggok sebagaimana pada lapisan pertama dan seterusnya sampai jerami yang
tersedia habis.
Konsentrat
Konsentrat adalah merupakan pakan tambahan untuk mencukupi
kebutuhan nutrisi pada ternak agar pertumbuhannya optimal. Pakan tambahan ini bisa
terdiri dari onggok, dedak padi, bungkil kelapa, atau limbah pertanian lainnya.
Susunan konsentrat yang sudah biasa digunakan di experimental farm fakultas
peternakan unsoed adalah sebagai berikut:
Tabel:
Susunan Konsentrat
No
|
Jenis
Bahan
|
Persentase
|
Untuk
500 kg
|
Untuk
1000 kg
|
1.
|
Dedak padi
|
42
|
210
|
420
|
2.
|
Onggok
|
40
|
200
|
400
|
3.
|
Bungki kelapa
|
15
|
75
|
150
|
4.
|
Garam dapur
|
1
|
5
|
10
|
5.
|
Mineral
|
1
|
5
|
10
|
6.
|
Urea
|
1
|
5
|
10
|
Jumlah:
|
100
|
500
|
1000
|
3. Pola Penjualan Sapi Siap Potong
Kunci terahir yang tidak kalah pentingnya dalam penggemukan
sapi potong agar keuntukngan yang diperoleh tinggi adalah saat penjualannya.
Model penjualan sapi siap potong ada
beberapa macam yaitu dapat dengan penjualan jogrog, dapat dengan penjualan
kilogram bobot hidup atau dapat dengan penjualan dalam bentuk karkas,
masing-masing model penjualan tersebut mempunyai kelebihan dan kelemahan, oleh
karena itu maka paling tidak seorang peternak harus sudah menghitung harga
pokok sapi yang akan dijual, karena dengan pengetahuan itu dapat digunakan
sebagai dasar untuk menentukan harga jual sapinya, atau bisa juga apa bila
peternak mengetahui bobot hidup sapi yang akan dijual karena dengan pengetahuan
tersebut peternak tinggal mencari informasi mengenai harga pasar perkilo gram
bobot hidup.
Daftar Pustaka:
BPS Banyumas, 2008. Kabupaten
Banyumas Dalam Anggka. BPS Banyumas.
Dirjen
Peternakan, 1984. Pola Dasar dan Pola Umum Kebijaksanaan Operasional
Pembangunan Peternakan. Direktorat Jenderal Peternakan. Jakarta. Dirjen Peternakan.1999. Buku Statistik Peternakan. Direktorat Jenderal Peternakan Departem Pertanian. Jakarta.
PP PPSKI, 1990. Peningkatan Pendapatan Peternak Melalui Usaha Ruminansia Besar. Makalah Seminar HUT 24 Fakultas Peternakan Unsoed. Purwokerto.
Suryapratama, W., 2005. Imbangan Hijauan Konsentrat yang Mengandung Onggok dan Pollard Terfermentasi Serta Pengaruhnya Terhadap Asam Lemak Terkonjukasi dan Produksi Fermentasi Rumen. J Animal Production. Vol.7.No.3.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar