Minggu, 19 Februari 2017

POLA PENGGEMUKAN SAPI




 POLA PENGGEMUKAN SAPI DENGAN PEMBERIAN PAKAN AMONIASI JERAMI DAN KONSENTRAT



PENDAHULUAN
Pembangunan sektor pertanian merupakan bagian integral dari pembangunan ekonomi, oleh karena itu pembangunan sektor pertanian harus memiliki konsep dan orieantasi pada akselerasi pembangunan ekonomi. Percepatan dalam pembangunan pertanian dapat merangsang percepatan dalam pencapaian tujuan pembangunan ekonomi. Dengan demikian pembangunan pertanian harus berorientasi pada upaya meningkatkan pendapatan keluarga petani dan meningkatkan nilai tambah sektor pertanian.
Pembangunan subsektor peternakan memiliki makna strategis dalam upaya akselerasi pembangunan sektor pertanian dan sektor ekonomi. Pembangunan  subsektor peternakan dapat memperkokoh pencapaian tujuan pembangunan ekonomi baik secara makro melalui pendapatan domestik bruto maupun secara mikro melalui perbaikan pendapatan peternak.
Dalam pembangunan ekonomi subsektor peternakan mempunyai peranan yang penting sebab dapat berfungsi sebagai: a) penyumbang pangan hewani berupa daging, susu dan telur,  b) sumber pendapatan bagi peternak, c) penghasil devisa, d) penyedia lapangan pekerjaan, e) sasaran konservasi lingkungan melalui daur ulang pupuk kandang dan f) merupakan prestis sosial. (Muhammad, 1993).
Pertumbuhan ekonomi, meningkatnya jumlah penduduk, kemajuan di bidang pendidikkan dan kesehatan serta peningkatan kesadaran gizi masyarakat merupakan faktor gabungan yang menyebabkan konsumsi makanan khususnya protein hewani meningkat dari tahun ke tahun. Permintaan yang terus meningkat tersebut apa bila  tidak diimbangi dengan peningkatatan produksi atau penyediaan daging, susu dan telur maka akan terjadi kesenjangan yang cukup basar.
Sejalan dengan meningkatnya permintaan pasar akan daging, maka perlu diadakan penambahan populasi ternak potong dan  perbaikan pengelolaannya. Penggemukan ternak sapi merupakan usaha mengubah bentuk zat-zat makanan ternak menjadi hasil ternak yang dapat dimanfaatkan oleh manusia, terutama diusahakan agar ternak sapi secara efisien dapat mengubah sejumlah makanan yang dikonsumsi menjadi sejumlah daging. Upaya untuk meningkatkan produksi daging bukan hal yang mudah mengingat sumber-sumber produksinya bersifat biologis. Faktor-faktor pendukung seperti pakan, manajemen dan lingkungan mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap pertumbuhan ternak.
Perusahaan penggemukan ternak sapi (feedloter) akan berusaha untuk dapat mencapai pertumbuhan  bobot badan ternaknya seoptimal mungkin,   dalam waktu yang relatif singkat. Laju pertambahan bobot badan harian ternak sapi  sangat ditentukan oleh keunggulan genetik dari setiap ternak. Selain faktor genitik, pakan, manajemen dan lingkungan juga merupakan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan bobot badan, perbandingannya 30 persen dan 70 persen (Usri dan Santosa, 1982).          
Pembangunan subsektor perternakan, perlu dilakukan reorientasi tentang cara pendekatanya. Pendekatan di bidang peternakan tidak cukup hanya melalui pendekatan budidaya saja, akan tetapi perlu ditindak lanjuti melalui pendekatan agribisnis. Dengan demikian kawasan peternakan harus dipandang sebagai industri biologis yang dikendalikan oleh manusia untuk itu ada  4 aspek penting yang pelu diperhatikan, yaitu: 1) peternak sebagai subjek harus ditingkatkan pendapatan dan kesejahteraannya, 2) ternak sebagai objek  harus ditingkatkan produksi dan produktivitasnya, 3) lahan serta lingkungan sebagai basis ekologi dan ekosistem harus digunakan secara lestari dan seimbang untuk menghasilkan pakan dan lingkungan yang bebas penyakit dan 4) teknologi sebagai alat untuk mencapai tujuan.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka apabila kita akan mengusahakan  penggemukan sapi potong agar menguntungkan maka ada tiga kunci yang sangat perlu untuk diperhatikan yaitu:
1.      Pola pembelian sapi bakalan
2.      Pola budidayanya
3.      Pola penjualan sapi siap potong

PEMBAHASAN  
1. Pola Pembelian Sapi Bakalan
Dalam pembelian sapi bakalan  yang perlu diperhatikan adalah genitik, umur sapi, performance dan harga.
Genetik, pada dewasa ini di pasar-pasar hewan sudah banyak tersedia jenis sapi potong yang berkualitas unggul seperti sapi peranakan onggol,  sapi simental, sapi limosin, sapi carolis, angngus dan berbagai pesilangannya.
Umur sapi, dalam memilih sapi bakalan usahakan yang masih pada umur-umur produktif  yaitu tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua, atau pada kisaran umur di atas satu tahun dan di bawah lima tahun.
Performance sapi, pilih sapi bakalan yang sehat, postur tubuhnya tinggi, panjang, berdirinya tegap, kulitnya masih kendor dan penampilannya serasi.
Harga, dalam membeli sapi bakalan usahakan agar tidak terlalu mahal, artinya selisih harga beli perkilogram jangan terlalu jauh bila dibandingkan dengan harga jual perkilogramnya.

2. Pola Budidayanya
Penggemukan sapi potong dapat dilakaukan dengan berbagai cara, yaitu dengan cara tradisional, dengan cara semi intensif dan dengan cara intensif.
Dengan cara tradisional
Cara ini bisa kita temui pada pemeliharaan sapi diluar jawa pada umumnya, di mana masih tersedia padang penggembalaan yang sangat luas, sehingga pada pagi hari sapi-sapi dilepas dari kandang untuk mencari makan sendiri, kemudian pada sore hari sapi-sapi dihalau untuk masuk kandang kembali. Pola pemeliharaannya masih sangat sederhana baik pakan, perkawinan maupun kesehatan ternak tidak begitu diperhatikan, sehingga pertumbuhan sapi sangat lambat dan tingkat kematian tinggi.
Dengan cara semi intensif
Cara ini biasa dilakukan oleh peternak kecil di pedesaaan jawa pada umumnya. Peternak memelihara sapi antar 1 sampai dengan 3 ekor, dibuatkan kandang disekitar pekarangan rumah, atau dipersawahan dalam bentuk kelompok usaha ternak sapi potong (kunak). Setiap hari sapi-sapi dicarikan rumput lapang atau limbah pertanian lainnya seperti jerami padi, batang jagung dan pohan kacang. Sekali waktu sapi-sapi diberi pakan tambahan berupa singkong atau dedak padi kalau kebetulan petani habis panen.
Dengan cara intensif
Cara ini bisa ditemukan pada perusahaan penggemukan sapi potong (feedloter). Pada perusahaan-perusahaan penggemukan sapi dituntut untuk dapat menghasilkan daging dengan cepat dan berkualitas baik, untuk itu maka pemilihan sapi bakalan, pemberian pakan dan kesehatan sangat diperhatikan agar pemeliharaannya efisien.
Pola penggemukan sapi dengan pemberian pakan amoniasi jerami dan konsentrat, ini adalah merupakan salah satu teknologi pakan yang bisa digunakan untuk memacu pertumbuhan sapi menjadi lebih cepat, dikatakan lebih cepat karena dengan pemberian pakan seperti ini pertambahan bobot harian sapi meningkat dari 0,5 kilo gram   pada pemeliharaan tradisional maupun semi intensif dapat meningkat menjadi 1 sampai dengan 1,5 kilo gram per hari.
Amoniasi jerami
Pemenuhan kebutuhan hijauan sebagai makanan pokok ternak menggunakan hijauan kering seperti jerami padi adalah merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi perbedaan kepentingan penggunaan lahan sawah untuk tanaman rumput dan untuk mengatasi produktifitas rumput yang rendah pada mamusim kemarau.   Jerami padi  sebagai limbah pertanian tersedia begitu banyak pada musim panen, tetapi belum banyak dimanfaatkan karena nilai nutrisinya rendah. Oleh karena itu  untuk meningkatkan kualitas jerami padi sebagai pakan ternak harus diberi perlakuan tertentu seperti menambahkan urea antara 3% - 5%, air 10% dan tepung onggok 2% pada jerami padi kering (sering disebut dengan istilah amoniasi jerami), setelah itu jerami ditutup rapat dibiarkan selama tiga minggu (21 hari) dan selanjutnya setelah 21 hari jerami amonoasi tersebut di angin-anginkan baru kemudian bisa diberikan kepada ternak. Cara membuatnya jerami ditebar merata dengan ketebalan 10 cm dalam ruangan yang sudah disiapkan, taburi dengan campuran air, urea dan onggok sampai merata selanjutnya tebarkan lagi jerami diatasnya sebagai lapisan kedua dengan ketebalan yang sama seperti pada lapisan pertama dan taburi campuran air, urea dan onggok sebagaimana pada lapisan pertama dan seterusnya sampai jerami yang tersedia habis.
Konsentrat
Konsentrat adalah merupakan pakan tambahan untuk mencukupi kebutuhan nutrisi pada ternak agar pertumbuhannya optimal. Pakan tambahan ini bisa terdiri dari onggok, dedak padi, bungkil kelapa, atau limbah pertanian lainnya. Susunan konsentrat yang sudah biasa digunakan di experimental farm fakultas peternakan unsoed adalah sebagai berikut:
Tabel: Susunan Konsentrat  
No
Jenis Bahan
Persentase
Untuk 500 kg
Untuk 1000 kg
1.
 Dedak padi
42
210
420
2.
 Onggok
40
200
400
3.
 Bungki kelapa
15
75
150
4.
 Garam dapur
1
5
10
5.
 Mineral
1
5
10
6.
 Urea
1
5
10

 Jumlah:
100
500
1000
     



3. Pola Penjualan Sapi Siap Potong
Kunci terahir yang tidak kalah pentingnya dalam penggemukan sapi potong agar keuntukngan yang diperoleh tinggi adalah saat penjualannya. Model penjualan sapi siap potong  ada beberapa macam yaitu dapat dengan penjualan jogrog, dapat dengan penjualan kilogram bobot hidup atau dapat dengan penjualan dalam bentuk karkas, masing-masing model penjualan tersebut mempunyai kelebihan dan kelemahan, oleh karena itu maka paling tidak seorang peternak harus sudah menghitung harga pokok sapi yang akan dijual, karena dengan pengetahuan itu dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan harga jual sapinya, atau bisa juga apa bila peternak mengetahui bobot hidup sapi yang akan dijual karena dengan pengetahuan tersebut peternak tinggal mencari informasi mengenai harga pasar perkilo gram bobot hidup.


Daftar Pustaka:

BPS Banyumas, 2008. Kabupaten Banyumas Dalam Anggka. BPS Banyumas.
Dirjen Peternakan, 1984. Pola Dasar dan Pola Umum Kebijaksanaan Operasional Pembangunan Peternakan. Direktorat Jenderal Peternakan. Jakarta. 

Dirjen Peternakan.1999. Buku Statistik Peternakan. Direktorat Jenderal Peternakan  Departem Pertanian. Jakarta. 
PP PPSKI, 1990. Peningkatan Pendapatan Peternak Melalui Usaha Ruminansia Besar. Makalah Seminar HUT 24 Fakultas Peternakan Unsoed. Purwokerto.
 Suryapratama, W., 2005. Imbangan Hijauan Konsentrat yang Mengandung Onggok dan Pollard Terfermentasi  Serta Pengaruhnya Terhadap Asam Lemak Terkonjukasi dan Produksi Fermentasi Rumen. J Animal Production. Vol.7.No.3.         

Tidak ada komentar:

Posting Komentar