Cerpen : Aco dan Ecce
Abdan baso
HUJAN DAN PERKENALAN
Sebut
saja namanya Aco Bin Amir, seorang anak remaja yang ingin tumbuh dewasa secepat
mungkin. Katanya “ Dewasa itu hebat, dan bisa hidup bebas.” Itu lah Aco, anak
remaja yang masil labil. Diumur 15 tahun, Aco sudah bergaul dengan orang-orang
dewasa disisi lain ia masih anak ingusan yang hidup dengan kedua orang tuanya.
Berbeda
dengan Ecce yang hidup di kampung sebelah dengan bapak dan kedua kakaknya. Ecce
lebih tua setahun dari pada Aco. Setiap hari Ecce membereskan rumah setelah pulang
sekolah. Kegiatan rumah tangga dilakukan Ecce sejak berumur 10 tahun, karena
ibunya pergi dari rumah saat ia msih kecil. Ecce merupakan anak perempuan
satu-satunya dirumah itu, bapaknya bekerja sebagai petani, begitu pula kakaknya
karena minim pendidikan untuk bekerja di kantoran.
Suatu
ketika di kampong Ecce ada sebuah pesta pernikahan. Hari itu hari sabtu. Aco
pun diajak temannya ke acara tersebut. Namanya Anto.
Anto : “ malam mini kamu ada kegiatan?”
Aco : “ saya ingin menyelesaikan tugas saya,
memangnya kenapa?”
Anto : “ ohh begitu, padahal saya ingin mengajak
kamu ke acara musik pernikahan di kampong sebelah.”
Tanpa piker
panjang Aco menajawab
Aco : “ Baiklah, ayo.!” Dalam benaknya aco
berfikir saya kan sudah dewasa, jadi tidak apa-apa saya pergi, kebetulan besok
juga hari minggu.
Malam tiba, Aco dan Anto beangkat
keacara tersebut. Anto dan Aco menonton Acara music yang ada dimalam
itu,ditengah asiknya menikmati musik, secara tidak sengaja Ecce melintas
dihadapan Aco. Saat itu pula Aco melihat wajah cantik nanindah Ecce ( pandangan
pertama, hehehe J
). Malam semakin larut, awan pun terlihat gelap serasa ingin hujan, Anto dan
Aco pun pulang dari acara music.
Ditengah perjalanan pulang hujan
turun dengan derasnya dan mereka menepi disalah satu rumah warga yang mereka
tidak kenal. Hujan semakin deras, malam semakin dingin dan larut, serasa langit
ingin runtuh. Anto dan Aco pun berbincang.
Anto : “ Aco, kapan kita pulang kalo hujan deras
begini ?”
Aco : “ Mana ku tahu, tunggu sampai reda ?”
Anto : “ Baiklah, tapi baju saya basah, saya juga
kedinginan ! “
Aco : “ kamu piker baju saya juga tidak basah?”
(menggigil kedinginan )
Ditangah perbincangan mereka seorang
laki-laki dengan tubuh kekar dan tinggi menuju rumah itu, Aco dan Anto kaget
dan merasa takut. Hujan masih deras laki-laki itu masuk kerumah tanpa menyapa,
dalam hati Aco berkata : “Untung saja pemilik rumah, jadi tenang deh.!” . 5
menit setelah laki-laki itu masuk, suara kaki
menghampiri mereka berasal dari dalam rumah, mereka mendengar suara wanita
yang merdu mengajak masuk kedalam rumah tersebut.
@wanita : silahkan masuk, ayah saya menyuruh
kalian masuk
Aco : Iya terimakasih, tapi kami
disini saja, hujan mungkin akan reda
@wanita : tapi inikan masih hujah, tunggu
didalam saja,diluar juga dingin.
Anto : baiklah, ayo aco kita masuk.
Anto dan Aco masuk kedalam rumah dan
duduk dengan tenang. Tidak lama mereka duduk terdengar suara dari sebuah kamar.
@laki-laki : Ecce, ambilkan mereka baju kakakmu, karena baju mereka
basah!
Aco :
oh nama cewe itu Ecce! (berbicara dalam hati J)
Ecce : Baik Pak.
Tidak
lama kemudian Ecce keluar membawa 2 pasang pakaian untuk Aco dan Anto, tanpa
menolak Aco dan Anto mengambil baju dan mengganti baju meraka. Setelah
mengganti baju Bapak Ecca menunggu di ruang tamu, lalu duduklah Anto dan Aco.
Bapak Ecce : kamu saiapa?
Aco :
Aco om! dan ini teman saya Anto. ( sambil menunjuk Anto )
Bapak Ecce : Kalian darimana malam-malam begini?
Aco : Saya
dari acara musik pernikahan dikmpung ini om, kebetulan
hujan
jadi mau tidak mau kami harus berteduh.
Bapak Ecce : jadi begitu, saya juga dari acara itu. Lalu kalian tinggal
dimana?
Anto : kami tinggal di kampung sebelah Om,
Selang beberapa menit percakapan
mereka Ecce keluar dengan membawa teh hangat untuk mereka.
Bapak Ecce : Perkenalkan ini Ecce, anak bungsu saya, tadi dia juga dari
Acara tersebut,
tetapi Ecce pulang lebih awal.
Aco :
Iya Om saya juga melihatnya.
Mereka berkenalan
Aco :
Saya Aco
Ecce : Ecce
Anto : Anto
Ecce : Ecce, silahkan di minum tehnya!
Ecce pun pergi meninggalkan mereka.
Percakapan kemudian berlanjut. Pukul 1 malam hujan pun reda, Aco dan Anto Pamit
pulang.
Aco :
Hujan sudah berhenti Om, kalau begitu kami pulang dulu.
Bapak Ecce : Kalian tidak nginap? Ini sudah larut malam
Anto : Tidak Om, nanti orang tua kami khawatir, kami juga
takut
merepotkan
Om.
Aco :
iya Om. Oia Om baju ini kami akan kembalikan kalau sdah kami
bersihkan
yah Om?
Bapak Ecce : Baiklah kalo begitu, hati-hati dijalan.
Aco & Anto : iya Om. Terimakasih. Assalamaualaikum! (menyahut bersamaan)
Aco dan Anto pun keluar dari rumah
Ecce dan pulang kerumahnya.
Dua hari setelah itu Aco dan Anto
kembli kerumah Ecce untuk mengembalikan pakaian yang mereka pinjam saat setelah
mereka pulang kesekolah.
Aco :
Assalamaualaikum! Assalamaualaikum! (mengetuk pintu)
Tidak lama menunggu Ecce datang
dari arah sama dangan Aco
Ecce : Wa’alaikumsalam!
Ada apa? Kakak saya belum pulang dari kebun
biasanya
petang mereka pulang! ( mengira teman kakaknya)
Aco : Kami
tidak mencari kakak kamu, kami hanya ingin
mengembalikan
baju yang kami pinjam malam itu.
Ecce : Oh kalian rupanya.. Oia kaliankan adik kelas ku di
SMA Nusa
Bakti.
Anto : iya, kami memang bersekolah di tempat itu, tapi
saya tidak pernah
melihat
kamu!
Aco :
Benar, saya juga tidak pernah melihat mu.
Ecce : Mungkin kalian tidak pernah melihat saya,
karena saya lebih
sering menghabisakan
waktu di perpustakaan. Tapi saya melihat
kalian
beberapa kali di kantin sekolah.
Aco :
iya memeng kami sering nongkrong saat istirahat. Biasalah anak
laki-laki.
Oia, ini bajunya. (menyerahkan baju). Kalau begitu kami pamit
dulu Assalamaualaikum!
Setelah saat itu Aco, Ecce maupun
Anto menjadi teman, ketika bertemu saling menyapa, bercakap bahkan bercanda
layaknya ramaja senormalanya. JJJ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar