Jumat, 28 Agustus 2015

Cerpen : Aco dan Ecce
Abdan baso




HUJAN DAN PERKENALAN

Sebut saja namanya Aco Bin Amir, seorang anak remaja yang ingin tumbuh dewasa secepat mungkin. Katanya “ Dewasa itu hebat, dan bisa hidup bebas.” Itu lah Aco, anak remaja yang masil labil. Diumur 15 tahun, Aco sudah bergaul dengan orang-orang dewasa disisi lain ia masih anak ingusan yang hidup dengan kedua orang tuanya.
Berbeda dengan Ecce yang hidup di kampung sebelah dengan bapak dan kedua kakaknya. Ecce lebih tua setahun dari pada Aco. Setiap hari Ecce membereskan rumah setelah pulang sekolah. Kegiatan rumah tangga dilakukan Ecce sejak berumur 10 tahun, karena ibunya pergi dari rumah saat ia msih kecil. Ecce merupakan anak perempuan satu-satunya dirumah itu, bapaknya bekerja sebagai petani, begitu pula kakaknya karena minim pendidikan untuk bekerja di kantoran.
Suatu ketika di kampong Ecce ada sebuah pesta pernikahan. Hari itu hari sabtu. Aco pun diajak temannya ke acara tersebut. Namanya Anto.
Anto    : “ malam mini kamu ada kegiatan?”
Aco     : “ saya ingin menyelesaikan tugas saya, memangnya kenapa?”
Anto    : “ ohh begitu, padahal saya ingin mengajak kamu ke acara musik pernikahan di kampong sebelah.”
Tanpa piker panjang  Aco menajawab
Aco     : “ Baiklah, ayo.!” Dalam benaknya aco berfikir saya kan sudah dewasa, jadi tidak apa-apa saya pergi, kebetulan besok juga hari minggu.
            Malam tiba, Aco dan Anto beangkat keacara tersebut. Anto dan Aco menonton Acara music yang ada dimalam itu,ditengah asiknya menikmati musik, secara tidak sengaja Ecce melintas dihadapan Aco. Saat itu pula Aco melihat wajah cantik nanindah Ecce ( pandangan pertama, hehehe J ). Malam semakin larut, awan pun terlihat gelap serasa ingin hujan, Anto dan Aco pun pulang dari acara music.
            Ditengah perjalanan pulang hujan turun dengan derasnya dan mereka menepi disalah satu rumah warga yang mereka tidak kenal. Hujan semakin deras, malam semakin dingin dan larut, serasa langit ingin runtuh. Anto dan Aco pun berbincang.
Anto    : “ Aco, kapan kita pulang kalo hujan deras begini ?”
Aco     : “ Mana ku tahu, tunggu sampai reda ?”
Anto    : “ Baiklah, tapi baju saya basah, saya juga kedinginan ! “
Aco     : “ kamu piker baju saya juga tidak basah?” (menggigil kedinginan )
            Ditangah perbincangan mereka seorang laki-laki dengan tubuh kekar dan tinggi menuju rumah itu, Aco dan Anto kaget dan merasa takut. Hujan masih deras laki-laki itu masuk kerumah tanpa menyapa, dalam hati Aco berkata : “Untung saja pemilik rumah, jadi tenang deh.!” . 5 menit setelah laki-laki itu masuk, suara kaki  menghampiri mereka berasal dari dalam rumah, mereka mendengar suara wanita yang merdu mengajak masuk kedalam rumah tersebut.
@wanita          : silahkan masuk, ayah saya menyuruh kalian masuk
Aco                 : Iya terimakasih, tapi kami disini saja, hujan mungkin akan reda
@wanita          : tapi inikan masih hujah, tunggu didalam saja,diluar juga dingin.
Anto                : baiklah, ayo aco kita masuk.
            Anto dan Aco masuk kedalam rumah dan duduk dengan tenang. Tidak lama mereka duduk terdengar suara dari sebuah kamar.
@laki-laki        : Ecce, ambilkan mereka baju kakakmu, karena baju mereka basah!
Aco                 : oh nama cewe itu Ecce! (berbicara dalam hati J)
Ecce                : Baik Pak.
            Tidak lama kemudian Ecce keluar membawa 2 pasang pakaian untuk Aco dan Anto, tanpa menolak Aco dan Anto mengambil baju dan mengganti baju meraka. Setelah mengganti baju Bapak Ecca menunggu di ruang tamu, lalu duduklah Anto dan Aco.
Bapak Ecce     : kamu saiapa?
Aco                 : Aco om! dan ini teman saya Anto. ( sambil menunjuk Anto )
Bapak Ecce     : Kalian darimana malam-malam begini?
Aco                 : Saya dari acara musik pernikahan dikmpung ini om, kebetulan                           hujan jadi mau tidak mau kami harus berteduh.
Bapak Ecce     : jadi begitu, saya juga dari acara itu. Lalu kalian tinggal dimana?
Anto                : kami tinggal di kampung sebelah Om,

Selang beberapa menit percakapan mereka Ecce keluar dengan membawa teh hangat untuk mereka.
Bapak Ecce     : Perkenalkan ini Ecce, anak bungsu saya, tadi dia juga dari Acara                           tersebut, tetapi Ecce pulang lebih awal.
Aco                 : Iya Om saya juga melihatnya.

Mereka berkenalan
Aco                 : Saya Aco
Ecce                : Ecce
Anto                : Anto
Ecce                : Ecce, silahkan di minum tehnya!

Ecce pun pergi meninggalkan mereka. Percakapan kemudian berlanjut. Pukul 1 malam hujan pun reda, Aco dan Anto Pamit pulang.  
Aco                 : Hujan sudah berhenti Om, kalau begitu kami pulang dulu.
Bapak Ecce     : Kalian tidak nginap? Ini sudah larut malam
Anto                : Tidak Om, nanti orang tua kami khawatir, kami juga takut                           merepotkan Om.
Aco                 : iya Om. Oia Om baju ini kami akan kembalikan kalau sdah kami                            bersihkan yah Om?
Bapak Ecce     : Baiklah kalo begitu, hati-hati dijalan.
Aco & Anto    : iya Om. Terimakasih. Assalamaualaikum! (menyahut bersamaan)

Aco dan Anto pun keluar dari rumah Ecce dan pulang kerumahnya.
Dua hari setelah itu Aco dan Anto kembli kerumah Ecce untuk mengembalikan pakaian yang mereka pinjam saat setelah mereka pulang kesekolah.
Aco                 : Assalamaualaikum! Assalamaualaikum!  (mengetuk pintu)

Tidak lama menunggu Ecce datang dari arah sama dangan Aco
Ecce                : Wa’alaikumsalam! Ada apa? Kakak saya belum pulang dari kebun                            biasanya petang mereka pulang! ( mengira teman kakaknya)
Aco                 : Kami tidak mencari kakak kamu, kami hanya ingin                            mengembalikan baju yang kami pinjam malam itu.
Ecce                : Oh kalian rupanya.. Oia kaliankan adik kelas ku di SMA Nusa                            Bakti.
Anto                : iya, kami memang bersekolah di tempat itu, tapi saya tidak pernah                           melihat kamu!
Aco                 : Benar, saya juga tidak pernah melihat mu.
Ecce                : Mungkin kalian tidak pernah melihat saya, karena saya lebih                           sering menghabisakan waktu di perpustakaan. Tapi  saya melihat                           kalian beberapa kali di kantin sekolah.
Aco                 : iya memeng kami sering nongkrong saat istirahat. Biasalah anak                           laki-laki. Oia, ini bajunya. (menyerahkan baju). Kalau begitu kami                           pamit dulu Assalamaualaikum!

Setelah saat itu Aco, Ecce maupun Anto menjadi teman, ketika bertemu saling menyapa, bercakap bahkan bercanda layaknya ramaja senormalanya. JJJ



                               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar